China resmi mengumumkan rencana ambisius untuk menggandakan ukuran stasiun luar angkasa Tiangong menjadi enam modul guna menyaingi kapasitas awak Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Langkah strategis ini muncul di tengah kesuksesan misi Artemis II milik NASA dan rencana deorbit ISS pada 2031 mendatang. Ekspansi tersebut mempertegas posisi Beijing sebagai pemimpin baru dalam riset orbit rendah Bumi yang kini mulai terbuka bagi mitra internasional.
Ambisi luar angkasa China memasuki babak baru. Setelah sukses meluncurkan modul inti pada 2021, Beijing kini bersiap memperluas stasiun luar angkasa Tiangong secara masif. Langkah ini bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan pesan politik kuat kepada dunia bahwa dominasi Barat di orbit rendah Bumi mulai goyah.
Transformasi Struktur dari Bentuk T ke Salib
Saat ini, Tiangong beroperasi dengan struktur berbentuk 'T' yang terdiri dari tiga modul dengan total massa sekitar 100 ton. Kapasitasnya terbatas, hanya mampu menampung tiga astronaut secara permanen dalam volume bertekanan 340 meter kubik. Angka ini memang masih jauh di bawah ISS yang memiliki massa 420 ton dan kapasitas tujuh orang.
Namun, peta kekuatan akan berubah mulai 2027. China berencana menambah tiga modul baru sehingga total menjadi enam unit yang membentuk formasi salib. Ekspansi ini akan mendongkrak massa stasiun hingga 180 ton. Roket Long March 5B akan menjadi tulang punggung untuk mengangkut komponen-komponen laboratorium tambahan tersebut ke orbit.
Peningkatan ini memungkinkan Tiangong menampung enam astronaut sekaligus. Secara teknis, China akan memiliki kapasitas misi permanen yang setara dengan ISS. Fokus penelitian pun akan diperluas, mencakup lebih dari 260 eksperimen yang saat ini sudah berjalan di atas sana.
Diplomasi Orbit dan Hak Akses Eksklusif
Selama bertahun-tahun, stasiun luar angkasa menjadi laboratorium eksklusif bagi peneliti China karena mereka dikucilkan dari proyek ISS. Kini, situasinya berbalik. Beijing mulai memegang "kunci gerbang" bagi negara lain yang ingin melakukan riset di luar angkasa. Pakistan telah mengonfirmasi akan mengirimkan astronaut mereka untuk berlatih dan terbang ke Tiangong.
Selain Pakistan, astronaut dari Hong Kong dan Makau juga sedang dalam proses pelatihan. Fenomena ini menunjukkan pergeseran poros kerja sama teknologi global. Bahkan, sejumlah badan antariksa di Eropa mulai melirik China sebagai mitra alternatif karena merasa hanya menjadi "pemeran pendukung" dalam agenda NASA.
China memanfaatkan momentum ini untuk mendorong kolaborasi dengan Kantor Urusan Luar Angkasa PBB (UNOOSA). Meski terbuka bagi kerja sama internasional, Beijing tetap memegang kendali penuh atas hak akses. Ini adalah bentuk soft power baru yang memanfaatkan keunggulan teknologi kedirgantaraan.
Menanti Detik-Detik Terakhir Masa Bakti ISS
Kontras dengan ekspansi agresif China, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) justru sedang menghitung hari. NASA telah menjadwalkan proses desmantelasi pada 2031. Rencananya, kendaraan khusus dari SpaceX akan memandu stasiun raksasa tersebut jatuh ke "kuburan satelit" di Samudra Pasifik.
Keputusan memensiunkan ISS memicu perdebatan panjang mengenai masa depan kehadiran manusia di orbit rendah. Jika tidak ada stasiun pengganti dari pihak Barat dalam waktu dekat, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun luar angkasa berawak yang beroperasi di dunia.
Bagi industri teknologi dan kedirgantaraan, pergeseran ini menandai berakhirnya era unipolar dalam eksplorasi ruang angkasa. China tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan, mereka tengah membangun infrastruktur yang mungkin akan menjadi standar global baru di dekade mendatang.