Bhayangkara Presisi mengusung ambisi besar saat bertindak sebagai tuan rumah turnamen antarklub voli paling bergengsi di Asia. Manajemen resmi mengonfirmasi perekrutan empat pemain asing berprofil mentereng untuk mengisi pos-pos krusial. Langkah strategis ini bertujuan mengamankan trofi sekaligus menebus kegagalan pada kompetisi domestik sebelumnya.
Mentalitas Juara dan Target Tertinggi
Manajer tim Bhayangkara, Pipit Rismanto, menegaskan bahwa pemilihan pemain melewati proses kurasi ketat. Pihak klub mencari sosok yang mampu memberikan dampak instan, baik secara teknis maupun pengaruh di ruang ganti. Targetnya jelas: menjadi yang terbaik di Asia.
"Kami mencari komposisi yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki mental juara," ujar Pipit dalam rilis resmi klub, Rabu (6/5). Ia menambahkan bahwa kehadiran para pemain elit ini bertujuan mengangkat standar permainan tim agar kompetitif di level AVC.
Tembok Kuba dan Permata Slovenia
Sektor pertahanan di depan net menjadi tanggung jawab Robertlandy Simón Aties. Middle blocker veteran asal Kuba berjuluk "Simonster" ini diproyeksikan menjadi tembok raksasa penghalau serangan lawan. Simon tersohor berkat jangkauan blok tinggi serta servis mematikan yang kerap menghasilkan poin langsung.
Bhayangkara juga memperkuat lini serang dengan mendatangkan Rok Mozic. Bintang muda Slovenia ini merupakan salah satu outside hitter terbaik yang kini merumput di liga elit Eropa. Mozic, yang akrab disapa Mozaic, diprediksi menjadi pembeda melalui akurasi serangan dan kemampuan bertahan yang seimbang.
Mesin Gol Mali dan Reuni Saadat
Guna menjaga konsistensi aliran poin, Bhayangkara mengandalkan duet mesin gol Noumory Keita dan Bardia Saadat. Berikut profil singkat kedua pemain tersebut:
- Noumory Keita (Mali): Baru saja menuntaskan musim impresif di Liga Italia. Keita memiliki daya ledak lompatan luar biasa dan kekuatan pukulan di atas rata-rata.
- Bardia Saadat (Iran): Bukan nama asing bagi publik voli tanah air. Saadat telah memahami ritme permainan tim sejak Proliga 2026, sehingga proses adaptasinya diprediksi berjalan lebih cepat.
Kombinasi kuartet asing ini, jika berpadu dengan pilar lokal Timnas Indonesia, akan membentuk skuad paling kompetitif sepanjang sejarah klub. Pontianak bakal menjadi saksi perjuangan Bhayangkara Presisi memburu gelar juara Asia perdana mereka.