BANDA ACEH — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui kanal informasi cuaca ekstrem, infogempadunia, mengeluarkan peringatan dini terkait badai monsun yang mulai mengintai Provinsi Aceh. Sistem tekanan rendah di Teluk Benggala yang terpantau sejak Jumat (15/5/2026) dipastikan telah berkembang menjadi badai monsun, membawa massa udara basah dalam jumlah besar.
Berbeda dengan siklon tropis yang sempat melanda Sumatra bagian utara sebelumnya, pusat aktivitas badai monsun kali ini lebih terkonsentrasi di Kepulauan Andaman dan Nicobar (India), selatan Myanmar, serta Thailand bagian selatan dan tengah. Wilayah Aceh berada di sisi luar area badai, namun tetap akan menerima dampak tidak langsung yang signifikan.
Apa Saja Dampak yang Perlu Diwaspadai di Aceh?
Meski tidak separah siklon, badai monsun tetap membawa sejumlah potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat di pesisir barat dan utara Aceh diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap beberapa hal berikut:
- Gelombang tinggi: Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4 meter, mengancam keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan tradisional.
- Angin kencang: Kecepatan angin diprediksi berkisar antara 25 hingga 45 km per jam, berpotensi merobohkan papan reklame dan pohon tua.
- Hujan lebat hingga ekstrem: Curah hujan tinggi dapat memicu banjir bandang dan tanah longsor di daerah rawan.
- Gangguan aktivitas: Aktivitas masyarakat, terutama di sektor perikanan dan transportasi laut, diperkirakan akan terganggu.
Pola Cuaca: Aktif di Siang, Mereda di Malam Hari
Infogempadunia menjelaskan, pola badai monsun cenderung naik dan turun. Artinya, cuaca buruk tidak akan terjadi terus-menerus selama 24 jam penuh. Aktivitas hujan dan angin biasanya lebih aktif pada siang hingga sore hari akibat penguatan atmosfer. Sementara pada malam hingga dini hari, intensitasnya umumnya sedikit menurun di beberapa wilayah.
“Aceh akan tetap berpotensi mengalami hujan sangat lebat, banjir, hingga gangguan aktivitas masyarakat dalam beberapa hari ke depan,” demikian keterangan yang disitat dari akun infogempadunia, Sabtu (16/5/2026).
Imbauan untuk Nelayan dan Warga Pesisir
Peringatan dini ini ditujukan secara khusus bagi nelayan yang biasa melaut di pesisir barat dan utara Aceh. Gelombang tinggi disertai angin kencang membuat kondisi laut tidak aman untuk berlayar. Warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng perbukitan juga diminta waspada terhadap potensi banjir bandang dan longsor.
Pihak BMKG setempat terus memantau perkembangan sistem tekanan rendah di Teluk Benggala. Jika tekanan rendah terus menguat, cuaca buruk berpotensi terjadi selama beberapa hari ke depan dan dampaknya bisa meluas ke wilayah lain di Sumatra.