NAGAN RAYA — Anjloknya harga TBS sawit di Nagan Raya membuat pendapatan petani merosot tajam. Bupati Teuku Raja Keumangan (TRK) langsung mengambil langkah cepat dengan memanggil para pimpinan PMKS untuk membahas mekanisme harga yang dinilai tidak wajar.
Apa Pemicu Anjloknya Harga TBS di Nagan Raya?
Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak PMKS, penurunan harga TBS di tingkat petani kerap dipicu oleh fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) global. Namun, Bupati TRK menilai penurunan yang terjadi di Nagan Raya terlalu dalam dan tidak proporsional.
“Kami akan panggil pimpinan PMKS untuk mendengar langsung penjelasan mereka. Jangan sampai petani terus dirugikan,” ujar Bupati TRK dalam keterangan yang diterima media.
Siapa yang Paling Terdampak?
Petani sawit swadaya di sejumlah kecamatan di Nagan Raya menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung. Mereka mengeluhkan selisih harga yang mencapai ratusan rupiah per kilogram dibandingkan harga yang ditetapkan dinas perkebunan setempat.
Seorang petani di Kecamatan Seunagan menyebut, harga TBS pekan lalu masih di kisaran Rp 2.500 per kilogram, kini turun menjadi Rp 1.800 per kilogram. “Kami bingung, biaya panen dan angkut saja sudah besar,” katanya.
Langkah Apa yang Akan Diambil Pemkab?
Bupati TRK memastikan pertemuan dengan pimpinan PMKS akan digelar dalam waktu dekat. Pemkab Nagan Raya juga akan meminta data harga pembelian TBS dari masing-masing pabrik untuk dibandingkan dengan harga acuan provinsi.
“Kami tidak ingin ada praktik permainan harga yang merugikan petani. Jika ditemukan pelanggaran, kami akan tindak tegas,” tegas Bupati TRK.
Bagaimana Nasib Petani Sawit ke Depan?
Para petani berharap ada kepastian harga yang stabil dan menguntungkan. Mereka juga mendesak agar pemerintah daerah membentuk tim pengawas harga TBS di tingkat pabrik.
Hingga berita ini diturunkan, harga TBS di Nagan Raya masih berada di level terendah dalam enam bulan terakhir. Petani berharap pertemuan antara Bupati TRK dan pimpinan PMKS segera membuahkan hasil nyata.