BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, langsung mengemukakan potensi besar daerahnya saat bertemu Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al-Dhaheri, di Jakarta. Pertemuan itu menjadi ajang penjajakan kerja sama investasi di tiga sektor utama: lingkungan, energi, dan pariwisata.
“Aceh memiliki potensi besar di sektor sumber daya alam, energi terbarukan, hingga pariwisata yang dapat dikembangkan melalui sinergi dengan mitra internasional,” kata Fadhlullah dalam keterangan yang diterima di Banda Aceh, Selasa.
Mengapa UEA Dilirik untuk Investasi di Aceh?
Fadhlullah menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Aceh. Salah satu isu yang dibahas adalah upaya menjaga kelestarian kawasan hutan dan ekosistem Gunung Leuser, yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia. UEA dipandang memiliki pengalaman dan kapasitas dalam proyek-proyek lingkungan global.
Selain lingkungan, pembahasan juga menyentuh sektor energi. Pemerintah Aceh ingin mengembangkan energi terbarukan yang melimpah di daerah itu. Peluang kerja sama juga mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat agar investasi yang masuk tidak hanya berskala besar, tetapi juga menyentuh warga secara langsung.
Sabang Jadi Prioritas Pengembangan Pariwisata
Dalam pertemuan tersebut, Fadhlullah secara spesifik meminta agar kawasan Sabang menjadi prioritas kerja sama di sektor pariwisata. Sabang dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan, terutama wisata bahari dan ekowisata.
“Pengembangan wisata bahari, ekowisata, hingga infrastruktur pendukung pariwisata menjadi bagian penting, kita harap kerja sama ini dapat terjalin,” ujar Fadhlullah.
Pemerintah Aceh berharap kemitraan dengan UEA bisa membuka ruang investasi baru. Program-program pembangunan yang dihasilkan diharapkan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan wisata.