ACEH — NVIDIA mengumumkan RTX Spark, sebuah superchip yang menyatukan CPU, GPU, dan memori dalam satu paket. Chip ini akan hadir di laptop premium dari Microsoft Surface, ASUS, Dell, HP, Lenovo, dan MSI mulai paruh kedua 2026. Ukurannya bervariasi dari laptop 14 inci tipis hingga workstation 16 inci dan PC mini desktop.
Spesifikasi Utama
- SoC: NVIDIA GB10 Grace Blackwell Superchip (N1X)
- CPU: 20 core Armv9 — 10x Cortex-X925 (4,0 GHz) + 10x Cortex-A725 (2,85 GHz)
- GPU: Arsitektur Blackwell
- RAM: 128 GB LPDDR5X unified memory
- Interkoneksi CPU-GPU: NVLink-C2C dengan bandwidth 600 GB/s (5x lebih cepat dari PCIe Gen5)
- Cache: 2 MB L2 per core X925, 512 KB L2 per core A725, 16 MB L3, 16 MB system cache
Arsitektur Mirip HP Flagship, Tapi Lebih Bertenaga
RTX Spark menggunakan CPU Armv9 yang sama dengan chipset HP flagship. MediaTek turut mendesain prosesor ini — perusahaan yang sama di balik Dimensity 9400. Bedanya, RTX Spark punya 10 core besar dan 10 core efisien, sementara HP paling canggih sekalipun hanya punya satu core besar.
Kecepatan clock juga lebih tinggi: 4,0 GHz untuk core besar dan 2,85 GHz untuk core kecil. Cache L2 per core X925 mencapai 2 MB, setara dengan implementasi terbaik di kelas HP. NVIDIA mengklaim konfigurasi 20 core ini mampu menyajikan performa CPU yang solid, meski belum bisa mengalahkan Apple Silicon atau Qualcomm Oryon di tugas single-thread.
RAM 128 GB untuk AI Lokal Tanpa Hambatan
Fitur paling menonjol dari RTX Spark adalah memori terpadu 128 GB yang bisa diakses CPU dan GPU secara bersamaan. NVIDIA menggunakan antarmuka NVLink-C2C dengan bandwidth 600 GB/s — lima kali lipat dari PCIe Gen5 — sehingga model AI besar tidak perlu dipecah antara RAM sistem dan VRAM.
NVIDIA memilih LPDDR5X yang bandwidth efektifnya 273 GB/s. Angka ini jauh di bawah memori GDDR6/7 dedicated di GPU desktop (sekitar 768 GB/s). Artinya, performa gaming RTX Spark kemungkinan tidak akan menyamai GPU PC kelas atas. Namun untuk tugas AI lokal — seperti menjalankan model bahasa besar atau generator gambar — arsitektur unified memory ini jadi keunggulan besar.
Harga & Ketersediaan
NVIDIA belum mengumumkan harga resmi RTX Spark. Sebagai gambaran, pendahulunya, DGX Spark yang menjalankan Linux, dibanderol USD 4.700 (sekitar Rp 77,5 juta). Dengan tambahan lisensi Windows dan RAM 128 GB, harga RTX Spark diprediksi lebih tinggi. Belum ada konfirmasi ketersediaan di Indonesia.
Posisi Dibanding Kompetitor
RTX Spark bersaing di segmen laptop AI premium yang saat ini dikuasai Snapdragon X dari Qualcomm. Snapdragon X unggul di efisiensi daya dan performa sehari-hari, tapi hanya punya RAM 16 GB — terlalu kecil untuk menjalankan model AI canggih. RTX Spark menawarkan RAM 8 kali lipat lebih besar dengan bandwidth antarmuka yang jauh lebih cepat.
Di sisi lain, laptop dengan GPU dedicated NVIDIA masih lebih unggul untuk gaming berkat memori GDDR7 yang lebih cepat. RTX Spark lebih cocok untuk pengguna yang butuh keseimbangan antara mobilitas, AI lokal, dan gaming kelas menengah-atas.
Kesimpulan
RTX Spark adalah jawaban NVIDIA atas keterbatasan RAM di laptop AI saat ini. Dengan 128 GB unified memory dan arsitektur Arm yang efisien, chip ini menjanjikan kemampuan menjalankan model AI besar di perangkat portabel. Cocok untuk kreator konten, pengembang AI, dan gamer yang menginginkan laptop tipis tanpa mengorbankan performa pemrosesan cerdas.