ACEH — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat hanya akan membuahkan hasil jika seluruh komitmen yang tertuang dalam kesepakatan dijalankan secara penuh. "Keefektifan pembicaraan (dengan AS) bergantung pada komitmen penuh terhadap kewajiban-kewajiban yang disepakati dan pelaksanaannya dengan tepat," tulis Pezeshkian di akun media sosial X pada Selasa (23/6), seperti dikutip dari Anadolu.
Pezeshkian menekankan bahwa pernyataan-pernyataan di luar kerangka kerja sama yang telah disetujui tidak akan mendorong kemajuan perundingan. Menurutnya, satu-satunya tolok ukur keberhasilan adalah kepatuhan terhadap tanggung jawab yang telah disepakati bersama.
Pernyataan Pezeshkian ini merujuk pada hasil pembicaraan yang berlangsung di Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6). Negosiasi tersebut memuncak pada penandatanganan Kesepahaman Islamabad, sebuah memorandum 14 poin yang dimediasi oleh Pakistan. Dokumen itu ditandatangani secara digital oleh Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump pada 14 Juni dan resmi berlaku empat hari kemudian.
Kesepakatan ini mencakup sejumlah ketentuan strategis. Di antaranya adalah pengakhiran perang yang melibatkan wilayah Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak global—serta pencabutan blokade angkatan laut AS yang selama ini diberlakukan di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pezeshkian secara eksplisit memperingatkan bahwa retorika tanpa tindakan nyata tidak akan berarti apa pun dalam proses ini. "Kemajuan dalam langkah ini akan diukur dengan kepatuhan terhadap tanggung jawab yang disepakati," ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap hati-hati Teheran mengingat sejarah panjang hubungan bilateral yang diwarnai saling curiga. Sejak AS keluar dari Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA) pada era pemerintahan Trump sebelumnya, Iran berulang kali menuntut jaminan bahwa setiap perjanjian baru tidak akan ditinggalkan secara sepihak.
Pembicaraan di Swiss dan penandatanganan Kesepahaman Islamabad terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Blokade angkatan laut AS di pelabuhan Iran telah menjadi salah satu sumber gesekan utama, sementara Selat Hormuz kerap dijadikan alat tekanan oleh Iran dalam perselisihan internasional.
Mediasi Pakistan menjadi faktor penting yang memungkinkan kedua pihak duduk bersama. Islamabad selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Arab Saudi dan AS, namun juga menjalin komunikasi erat dengan Iran. Peran ini menjadikan Pakistan sebagai jembatan diplomatik yang kredibel bagi kedua negara yang berseteru.
Belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih menanggapi pernyataan Pezeshkian. Namun, sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa putaran negosiasi lanjutan dijadwalkan dalam beberapa pekan mendatang untuk membahas detail teknis implementasi kesepakatan.