ACEH — Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan perpanjangan kontrak ini bersifat krusial. Pasalnya, tanpa perpanjangan, produksi migas dari wilayah kerja Petronas bisa berhenti dan mengganggu pasokan energi nasional. "Perpanjangan ini dilakukan agar produksi minyak dan gas tidak ada jeda untuk berhenti," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (11/7).
FPSO Bukit Tua sendiri bukan barang baru. Kapal produksi, penyimpanan, dan bongkar muat ini sudah beroperasi selama 11 tahun dengan catatan keselamatan gemilang: 2,7 juta jam kerja tanpa kecelakaan. Kapasitasnya mencapai 25.000 barel minyak per hari (BOPD) dan 60 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
Perpanjangan kontrak ini menjadi fondasi bagi pengembangan tiga lapangan anyar Petronas yang saat ini masih dalam tahap konstruksi. Ketiganya adalah Lapangan Hidayah, Barokah, dan Bukit Panjang. Lokasinya berada di sekitar FPSO Selat Madura, sehingga keberadaan FPSO Bukit Tua menjadi vital untuk menampung dan mengalirkan produksi dari lapangan-lapangan tersebut.
Tanpa kepastian kontrak FPSO, proyek-proyek itu bisa mandek. Dengan perpanjangan 10 tahun, Petronas memiliki kepastian operasi untuk mengembangkan lapangan-lapangan tersebut hingga tuntas.
Kabar baik lainnya, nilai sewa FPSO dalam kontrak baru ini lebih rendah dibandingkan kontrak sebelumnya. Artinya, perpanjangan tidak hanya menjamin kelangsungan produksi, tetapi juga memberikan efisiensi biaya bagi negara.
Menariknya, FPSO Bukit Tua tidak sepenuhnya milik Petronas. Aset ini dimiliki bersama oleh Pemerintah Negara Bagian Sabah Malaysia melalui Kementerian Keuangan Negara Sabah dan perusahaan nasional Indonesia. Penandatanganan kontrak pun dihadiri langsung Menteri Keuangan Negara Sabah Malaysia yang juga Timbalan Menteri II, Datuk Seri Panglima H. Masidi Hajun.
Djoko menambahkan, perpanjangan ini diharapkan mempererat hubungan kerja sama energi kedua negara. Bahkan, Pemerintah Sabah telah menawarkan peluang kerja sama pengembangan wilayah kerja migas di kawasan perbatasan, seperti Blok Ambalat serta Blok Ligitan-Sipadan.
“Mohon doa agar FPSO ini dapat beroperasi dengan aman, lancar, dan selamat selama 10 tahun ke depan,” pungkas Djoko.