8 Pusat Kuliner Malam di Aceh yang Wajib Coba, Murah & Selalu Ramai

Penulis: Faisal Hasbi  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 14:14:31 WIB
Suasana malam di Pasar Atjeh, Banda Aceh, dipadati pengunjung yang menikmati aneka kuliner seperti mie aceh dan sate padang.

Banda Aceh dan sekitarnya punya ritme sendiri begitu azan Isya selesai. Jalan-jalan utama yang siangnya lengang berubah jadi lautan manusia dan lampu gerobak. Buat pendatang atau wisatawan, ini momen paling otentik buat mengenal selera lokal—dari kuah beulangong yang pekat hingga mie aceh yang digoreng di atas wajan besar.

Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun meliput dan ngopi di sudut-sudut kota, saya mendapati delapan titik kuliner malam yang konsisten ramai, bukan cuma akhir pekan. Beberapa di antaranya sudah legendaris sejak era 1990-an.

1. Pasar Atjeh (Pasar Aceh) — Jantung Kuliner Malam Sejak Dulu

Lokasinya di pusat Kota Banda Aceh, persis di seberang Masjid Raya Baiturrahman. Setiap malam, lapak-lapak tenda biru berjejer menjual sate padang, martabak, dan yang paling dicari: mie aceh spesial. Saya biasa memesan mie aceh tumis dengan telur bebek—teksturnya lebih kenyal.

Tips: datang antara pukul 19.00-21.00 WIB karena setelah itu beberapa menu favorit mulai habis. Jangan lupa cicipi kuah beulangong di lapak ujung timur, rasanya lebih pedas dibanding tengah pasar.

2. Simpang Surabaya — Surga Mie Aceh dan Ikan Bakar

Persimpangan Jalan Surabaya dan Jalan Teuku Umar ini terkenal dengan deretan warung mie aceh yang buka sampai tengah malam. Saya ingat betul, tahun 2019 lalu tempat ini masih sepi, tapi kini setiap malam kursi plastik penuh. Yang membedakan: porsi besar, daging sapi melimpah, dan pilihan level pedas sampai level 5.

Alternatif lain: ikan bakar baronang dengan sambal terasi di warung sebelah. Harganya bervariasi, lebih baik tanya langsung ke penjual sebelum pesan.

3. Lampulo — Kuliner Tepi Laut yang Tak Pernah Sepi

Kawasan Lampulo, tepatnya di sepanjang pesisir timur Banda Aceh, berubah jadi pusat jajanan malam sejak 2020. Aroma asap ikan bakar bercampur angin laut. Warung-warung tenda mulai beroperasi pukul 18.30. Saya paling suka memesan cumi bakar isi telur dan segelas es jeruk nipis.

Tips: bawa lotion anti nyamuk, karena area ini dekat tambak. Pilih meja yang agak jauh dari tempat pembakaran agar asap tidak mengganggu.

4. Peunayong — Pasar Tradisional yang Hidup Kembali Malam Hari

Pasar Peunayong siangnya ramai oleh pedagang kain dan perabot. Tapi begitu maghrib, area parkir dan pinggir jalan dipenuhi gerobak. Jajanan khas seperti timphan (kue tradisional Aceh) dan kari kambing muda jadi andalan. Saya pernah ngobrol dengan seorang penjual kari yang sudah berjualan sejak 2005—katanya, resepnya tidak berubah.

Jangan lewatkan es campur durian di lapak pojok. Rasanya legit, tapi pastikan duriannya matang sempurna.

5. Ulee Kareng — Malam Minggu Paling Ramai

Kecamatan Ulee Kareng, sekitar 4 km dari pusat kota, punya pusat kuliner di sepanjang Jalan Teuku Nyak Arief. Malam Minggu, area ini macet total. Yang unik: banyak lapak menjual sate matang (sate lilit khas Aceh) dan kuah pliek u. Saya merekomendasikan sate matang di lapak "Pak Din"—dagingnya empuk, bumbu kacangnya kental.

Tips: parkir kendaraan di area masjid atau mini market, jangan di pinggir jalan karena rawan macet.

6. Darussalam — Kuliner Mahasiswa yang Ekonomis

Kawasan kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) di Darussalam adalah surga kuliner malam murah meriah. Mulai dari nasi goreng kambing, mie aceh rebus, hingga pisang goreng coklat. Saya sering ke sini saat liputan kampus; porsi besar dengan harga terjangkau. Warung "Mie Aceh Mamat" di depan gerbang utama selalu antre.

Tips: bawa uang tunai, karena banyak lapak belum menerima pembayaran digital. Waktu terbaik: pukul 19.30-21.00.

7. Lhokseumawe — Simpang Empat Pasar Kota

Di Kota Lhokseumawe, pusat kuliner malam ada di Simpang Empat Pasar Kota. Di sini, sate padang dan sop kambing jadi primadona. Saya beberapa kali singgah saat perjalanan ke Aceh Utara. Rasanya lebih gurih karena menggunakan santan kental. Warung "Sop Kambing H. Bakri" sudah berjualan sejak 1998.

Tips: minta tambahan kuah gratis—biasanya penjual kasih tanpa diminta kalau kamu ramah. Hindari datang setelah pukul 22.00 karena stok mulai menipis.

8. Takengon — Kopi dan Ketan di Tepi Danau

Takengon, ibu kota Aceh Tengah, punya kuliner malam di sepanjang tepi Danau Laut Tawar. Yang khas: kopi gayo tubruk dan ketan srikaya. Saya merekomendasikan duduk di warung "Kopi Ate" sambil menikmati angin danau. Makanan berat seperti mie goreng dan nasi goreng juga tersedia.

Tips: suhu malam di Takengon bisa sangat dingin—bawa jaket tebal. Waktu terbaik: pukul 18.30-20.30, karena setelah itu kabut mulai turun.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah semua pusat kuliner malam di Aceh halal?
Ya, seluruh Aceh menerapkan syariat Islam, sehingga semua makanan yang dijual di pusat kuliner malam dipastikan halal. Tidak ada warung yang menjual babi atau minuman keras.

2. Berapa kisaran harga makanan di pusat kuliner malam Aceh?
Harga bervariasi tergantung menu dan lokasi. Untuk seporsi mie aceh atau nasi goreng, kisaran Rp20.000-Rp40.000. Untuk menu seafood seperti ikan bakar, bisa lebih tinggi. Lebih baik tanya langsung ke penjual.

3. Kapan waktu terbaik mengunjungi pusat kuliner malam di Aceh?
Pukul 19.00-21.00 WIB adalah waktu puncak. Sebagian besar warung mulai buka setelah maghrib (sekitar pukul 18.30) dan tutup antara pukul 23.00-01.00 dini hari.

4. Apakah ada pusat kuliner malam yang ramah vegetarian?
Beberapa tempat seperti Pasar Atjeh dan Darussalam menyediakan pilihan sayur seperti tumis kangkung, tahu goreng, dan tempe. Namun, pilihan terbatas. Disarankan memesan nasi putih dengan lauk sayur.

5. Bagaimana cara menuju pusat kuliner malam di Aceh menggunakan transportasi umum?
Di Banda Aceh, tersedia ojek online dan becak motor. Untuk ke Lhokseumawe atau Takengon, lebih baik menyewa mobil atau menggunakan travel antar kota. Parkir kendaraan pribadi cukup mudah di sebagian besar lokasi.

Menjelajahi kuliner malam Aceh bukan sekadar wisata rasa. Setiap piring mie aceh atau tusuk sate matang menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat setempat menjaga tradisi dan keramahtamahan. Datanglah dengan perut kosong dan rasa ingin tahu yang besar.

Reporter: Faisal Hasbi
Back to top