Pencarian

Malam Puitika Kopi di Banda Aceh: Sekda Bacakan Puisi Buatan AI, Istri Jadi Saksi Kisah Cinta yang Pernah Gagal

Minggu, 12 Juli 2026 • 18:32:58 WIB
Malam Puitika Kopi di Banda Aceh: Sekda Bacakan Puisi Buatan AI, Istri Jadi Saksi Kisah Cinta yang Pernah Gagal
Sekda Aceh M Nasir Syamaun membacakan puisi buatan AI di Kedai Kopi Cut Ayah, Banda Aceh.
Buatan AI, Istri Jadi Saksi Kisah Cinta yang Pernah Gagal LEAD: BANDA ACEH — Sekretaris Daerah Aceh, M Nasir Syamaun, naik ke panggung sederhana di Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Jumat malam (10/7/2026). Ia membacakan puisi buatan kecerdasan buatan (AI). Namun, sebelum melantunkan syair tentang pejuang, Nasir justru mengocok perut pengunjung dengan kisah masa lalunya: gagal memikat hati seorang gadis di Yogyakarta pada 1995. Di hadapan istrinya, Malahayati, yang duduk di antara kerumunan, ia mengaku nekat membaca puisi demi perempuan yang akhirnya menolaknya. ISI:

BANDA ACEH — Suasana Kedai Kopi Cut Ayah di kawasan Pango, Banda Aceh, berubah menjadi panggung sastra pada Jumat malam (10/7/2026). Acara bertajuk Puitika Kopi itu dihadiri puluhan pengunjung, mulai dari pejabat daerah hingga seniman ternama Aceh.

Tidak ada sambutan seremonial. Sekda Aceh M Nasir Syamaun yang memenuhi undangan justru menolak berpidato. “Tak ada yang mau dengar seremonial, nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi,” katanya. Panitia pun langsung mendapuknya naik ke panggung baca puisi.

Puisi AI dan Kisah Cinta yang Gagal

Panggung itu hanya berupa beberapa meja yang digeser untuk memberi ruang. Di bawah atap rumbia, di samping tumpukan kayu bakar dapur kopi, Nasir berdiri memegang mikrofon. Ia mengaku puisi yang dibacakannya dibuat oleh AI. “Saya minta pada AI agar dibuatkan puisi tentang pejuang. Maka dibuatkannya,” katanya.

Namun cerita di balik puisi itulah yang menyita perhatian. Nasir bercerita bahwa terakhir kali ia membaca puisi adalah pada 1995 di Balai Gading, Yogyakarta. “Saya bersedia membaca puisi waktu itu, karena tertarik pada seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Namun, gadis itu menolak saya. Maka saya gagal membaca puisi,” ujarnya. Gelak tawa pun pecah, apalagi saat Nasir melirik istrinya, Malahayati, yang ikut hadir. “Ini cerita lama ya Ma,” katanya sambil tersenyum.

Kegelisahan dari Segelas Kopi

Acara dipandu seniman Fikar W Eda. Ia membuka malam itu dengan lagu “Rangkaian Bunga Kopi” karya Yoppi Smong yang dinyanyikan bersama pengunjung. Syairnya berbunyi: “Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita, banyak ngopi banyak kali cerita kau.”

Suasana khidmat tercipta saat akademisi Herman RN membacakan puisinya tentang cinta rakyat Gayo kepada negara Indonesia yang berbalas kekecewaan. Pembaca termuda, Fathya Ruziqna, mahasiswi Universitas Syiah Kuala, menyuarakan kerisauan tentang alam yang dirusak hingga banjir menggulung pemukiman. “Dari segelas kopi, datang bergelas-gelas air mata,” ucapnya.

Kegelisahan serupa muncul dari puisi Jamal Syarif yang melukiskan perambahan hutan. “Manusia menjadi korban yang diciptakan sendiri. Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana,” katanya.

Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, juga hadir sebagai pembaca puisi. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Muddin, membacakan puisinya yang bersambut dengan lagu “Poh Bandet” karya Nazar Apache dan Mai Munzir. Syairnya mengkritik para bandit: “Bandet kota sangat sombong, bandet kampung banyak gaya, bandet pasar laksana preman, bandet kantoran yang ambil untung.”

Pengusaha Alwin Abdullah melalui puisinya “Benarkah” yang dibacakan Apa Kaoy menggugat kebenaran manusia yang saling membenci. Sementara Devi Matahari membacakan kenangan cinta seorang anak kepada ibunya melalui segelas sanger dan sedotan plastik biru. Ada pula Fauzan Santa yang membawakan monolog kopi tentang Teuku Umar berdialog dengan Cut Nyak Dhien untuk secangkir kopi terakhirnya.

Malam semakin larut. Segelas kopi demi segelas kopi telah mengalirkan beragam cerita—dari kegelisahan, kenangan, hingga satire—yang diikat oleh satu simpul: kopi dan puisi.

Bagikan
Sumber: portalnusa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks