ACEH — Segmen ponsel menengah-atas yang biasanya menjadi incaran pengguna yang ingin merasakan sensasi flagship dengan harga lebih ramah kini tengah mengalami pergeseran. Krisis pasokan memori global yang masih berlangsung hingga awal 2026 membuat harga komponen naik drastis. Akibatnya, vendor harus melakukan kompromi pada perangkat yang dibanderol di bawah Rs. 40.000 atau sekitar Rp 2,6 juta.
Untuk menekan biaya produksi di tengah kenaikan harga RAM dan penyimpanan, pabrikan mulai mengurangi jumlah kamera belakang. Konfigurasi dual kamera kembali menjadi standar, meninggalkan sensor makro atau depth sensor yang sebelumnya dianggap wajib di kelas ini.
Dari segi dapur pacu, pilihan prosesor juga bergeser ke chipset yang lebih hemat daya namun dengan performa di bawah chip kelas menengah tahun sebelumnya. Redmi Turbo 5, misalnya, mengandalkan chip yang sebelumnya digunakan di segmen entry-level. Sementara OnePlus Nord CE 6 mempertahankan pendekatan minimalis pada sektor kamera untuk menjaga harga tetap kompetitif.
Meski mengalami penurunan spesifikasi, beberapa vendor masih merilis perangkat baru di kisaran ini. Berikut opsi yang beredar berdasarkan laporan dari India, yang kerap menjadi indikator tren perangkat masuk ke Indonesia beberapa bulan kemudian:
Kondisi ini membuat segmen sub-Rp 2,6 juta mengalami apa yang disebut sebagai krisis identitas. Konsumen yang berharap mendapatkan material bodi kaca atau sertifikasi tahan air kelas atas harus merelakan ekspektasi tersebut. Sebaliknya, mereka akan mendapatkan ponsel yang fungsional untuk kebutuhan harian—media sosial, streaming, dan browsing—tanpa embel-embel fitur flagship.
Bagi pengguna yang mencari nilai terbaik, disarankan untuk membandingkan spesifikasi teknis secara detail, terutama pada sektor kamera dan chipset. Jangan hanya terpaku pada merek atau desain, karena perbedaan harga Rp 100-200 ribu bisa berarti perbedaan signifikan pada kualitas layar atau daya tahan baterai.
Jika Anda termasuk pemburu ponsel anyar di awal 2026, bersiaplah untuk menerima trade-off yang lebih besar dari biasanya. Ponsel di harga Rp 2,6 jutaan kini lebih cocok untuk pengguna yang mementingkan software update panjang dan pengalaman pengguna yang mulus, bukan untuk mereka yang menginginkan spesifikasi kamera mentereng atau material premium.
Pasar Indonesia biasanya mengikuti tren India dengan jeda 1-2 bulan. Pantau terus distributor resmi seperti Xiaomi Store dan OnePlus Experience Store untuk informasi ketersediaan dan harga final di dalam negeri.