ACEH — Keputusan investasi besar belum diambil, tapi sinyalnya mulai terlihat. Vale Indonesia memastikan proyek Tanamalia yang membentang di tiga sub-blok—Leoha, Lemo-Lemo, dan Lingkona—masih berada di fase Front End Loading (FEL) 2. Pada tahap ini, perusahaan memfokuskan diri pada penyelesaian eksplorasi untuk memvalidasi jumlah cadangan bijih nikel sebelum menentukan kelayakan teknis dan ekonominya.
“Jadi kita fokus dulu untuk bisa mengeksplorasi, untuk menjustifikasi pengembangan tambang,” ujar Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto, yang akrab disapa Anto, di Jakarta, Jumat (8/8).
Hasil eksplorasi hingga FEL 2 disebut menunjukkan prospek yang baik, meski manajemen belum merinci angka cadangan teridentifikasi. Setelah fase ini tuntas, proyek akan bergulir ke FEL 3 yang merupakan tahap persiapan menuju eksekusi pembangunan. Jika seluruh milestone berjalan sesuai rencana, konstruksi fisik diperkirakan dimulai pada 2027/2028, dan penambangan perdana dapat menyusul pada 2030.
Vale tidak hanya berhenti pada aktivitas penambangan. Tanamalia dirancang sebagai proyek pengolahan nikel terintegrasi. Perusahaan berencana mengolah bijih nikel limonit dari kawasan tersebut menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL)—teknologi yang sama yang dipakai untuk memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik.
Proyek ini dikembangkan berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) Nomor 885 Tahun 2025 untuk kegiatan eksplorasi di area hutan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Vale memperkuat portofolio hilirisasi nikel di Indonesia, sejalan dengan proyek ekspansi lain seperti Pomalaa dan Morowali.
Perjalanan menuju tambang tidak hanya soal hitungan cadangan dan keekonomian. Tanamalia berada di wilayah yang mencakup hutan lindung dan hutan produksi terbatas, menjadikan aspek lingkungan serta dampak sosial sebagai pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan. Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengakui tekanan ini kerap datang dari berbagai pihak, termasuk pemangku kepentingan internal.
“Bolak-balik saya diingatkan, ‘Pak, tolong diperhatikan sustainability-nya, tolong diperhatikan sosialnya.’ Challenging, yes. But kita bisa melewati itu nanti,” tegas Budi dalam gelaran Mining Nation Revolution yang diselenggarakan HIPMI di Jakarta, Kamis (7/8).
Anto menambahkan, pendekatan perusahaan terhadap masyarakat di sekitar lokasi tambang akan mengedepankan dialog. “Intinya kita harus tetap patuh hukum. Kemudian kita menyadari ada masyarakat di sana, sebisa mungkin kita upayakan penyelesaiannya adalah penyelesaian yang humanis,” jelasnya.
Vale menyebut Tanamalia sebagai proyek masa depan yang mulai dirintis dengan menggandeng sejumlah calon mitra kerja sama. Keberhasilan proyek ini nantinya akan menentukan posisi Vale dalam rantai pasok baterai global, di tengah persaingan ketat dengan produsen nikel lain yang juga berlomba mengamankan pasokan untuk industri kendaraan listrik.