BIREUEN — Derasnya arus informasi digital yang diakses santri melalui internet dan media sosial menuntut guru dayah untuk memperluas perannya. Mereka tidak lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi tempat yang aman bagi santri untuk berkonsultasi dan menyaring informasi yang mereka terima.
Hal ini menjadi pokok bahasan dalam Pelatihan Pengembangan Kapasitas Guru Dayah yang berlangsung selama dua hari, Rabu dan Kamis (5–6/8/2026), di Dayah Babussalam, Jeunieb, Bireuen. Pelatihan ini diinisiasi oleh Lembaga Psikologi dan Konsultan Training Tandaseru Indonesia.
Lailan F. Saidina, Pendiri Lembaga Psikologi dan Konsultan Training Tandaseru Indonesia, mengatakan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah lanskap lingkungan belajar dan kehidupan santri secara fundamental. Saat ini, santri dapat mengakses informasi dalam jumlah yang sangat besar hanya dalam hitungan detik.
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga perlu menjadi pendamping bagi santri. Di tengah informasi yang begitu berlimpah, santri membutuhkan sosok yang dapat membantu mereka memahami, menyaring, dan mengarahkan informasi tersebut agar memberi manfaat bagi kehidupannya,” ujar Lailan dalam keterangannya, Jumat (8/8/2026).
Menurut Lailan, menjadi konselor bagi santri bukan berarti guru mengambil alih peran psikolog profesional. Peran tersebut lebih menekankan pada kemampuan guru untuk mendengarkan, memahami, serta memberikan dukungan awal ketika santri menghadapi persoalan.
Kedekatan emosional antara guru dan santri menjadi modal utama. Guru yang mengenal santrinya dengan baik akan lebih mudah mendeteksi perubahan perilaku dan memahami kesulitan yang sedang dihadapi, sehingga pendampingan dapat diberikan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius.
Di era digital, posisi guru sebagai pendamping semakin krusial karena guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Tugas guru, lanjut Lailan, bukanlah bersaing dengan internet dalam menyampaikan sebanyak mungkin informasi.
Lailan juga mengajak para guru untuk mengubah cara pandang terhadap keberhasilan pembelajaran. Pendidikan di dayah, menurutnya, tidak semestinya hanya berorientasi pada banyaknya materi yang mampu disampaikan kepada santri.
“Fokus mengajar bukan semata-mata mengejar jumlah pengetahuan yang harus tersampaikan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ilmu itu hidup pada diri santri dan hadir dalam kehidupan mereka,” katanya.
Ia menegaskan, ilmu yang dipelajari santri seharusnya tercermin dalam cara berpikir, sikap, karakter, dan perilaku sehari-hari. Karena itu, guru perlu membantu santri menghubungkan apa yang mereka pelajari di dayah dengan realitas kehidupan nyata.
Melalui penguatan peran ganda ini, guru diharapkan mampu membekali santri dengan kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan. Tujuannya, agar santri tidak hanya menjadi pribadi yang berpengetahuan luas, tetapi juga mampu menghidupkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai-nilai yang mereka yakini.