ACEH — Guncangan gempa dilaporkan terasa hingga sejumlah kabupaten di Pulau Flores dan menyebabkan beberapa bangunan rumah warga serta fasilitas publik mengalami kerusakan. Laporan awal menyebutkan ruang tunggu Pelabuhan Pelni Maumere di Kabupaten Sikka ambruk akibat guncangan.
BMKG dalam pemutakhiran peringatan dininya menetapkan gempa ini berpotensi tsunami. Pemodelan yang dikeluarkan lembaga tersebut memasukkan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Sulawesi Tenggara (Sultra) ke dalam status waspada.
Untuk wilayah berstatus waspada, BMKG mengimbau pemerintah daerah setempat untuk mengarahkan masyarakat menjauhi pantai dan tepian sungai. Imbauan ini dikeluarkan sebagai langkah antisipasi dini terhadap kemungkinan terjadinya gelombang tinggi.
Informasi mengenai bangunan rusak datang dari warga setempat. Marsel, warga Kabupaten Sikka, menyampaikan bahwa sejumlah bangunan di Ruteng mengalami kerusakan akibat guncangan gempa yang cukup kuat.
"Di Ruteng banyak bangunan rusak. Termasuk ruang tunggu pelabuhan Pelni Maumere di Kabupaten Sikka juga ambruk," ungkap Marsel.
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi dari pemerintah maupun instansi terkait mengenai jumlah pasti bangunan yang terdampak maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. Tim tanggap darurat di lapangan masih melakukan pendataan.
Berdasarkan data BMKG, episenter gempa terletak sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, NTT. Kedalaman hiposenter tercatat 15 kilometer, yang dikategorikan sebagai gempa dangkal.
Dalam laporan resminya, BMKG NTT menuliskan, "Pemutakhiran Peringatan Dini Tsunami, telah terjadi gempabumi dengan kekuatan:7.7, lokasi: 30 km TimurLaut MBAY-NAGEKEO-NTT, waktu:15-Agu-26 04:58:24 WIB, berpotensi Tsunami di wilayah: NTB, NTT, SULSEL, SULTRA."
Pihak berwenang di tingkat kabupaten dan provinsi masih melakukan koordinasi untuk memastikan kondisi terkini di lapangan, terutama di wilayah pesisir yang masuk dalam zona peringatan dini.