ACEH — Perjalanan darat jarak jauh masih menjadi momok bagi sebagian besar pemilik mobil listrik di Indonesia. Kekhawatiran akan kehabisan daya di tengah jalan, SPKLU yang rusak, atau antrean panjang di jalur mudik seringkali membuat calon pembeli berpikir ulang. Komunitas KOLEKSI mencoba menjawab keraguan itu lewat agenda "Turing Kemerdekaan Jakarta-Lampung" bertema "Silent Across The Strait" yang berlangsung pada 15-17 Agustus 2026.
Acara ini bukan sekadar konvoi hura-hura. Ada misi teknis yang diemban: melakukan pencatatan langsung terhadap ketersediaan dan keandalan SPKLU di Rest Area Tol Jakarta-Merak hingga Tol Trans Sumatera ruas Lampung. Data ini nantinya diserahkan ke pihak terkait untuk ditindaklanjuti, sekaligus menjadi gambaran nyata kondisi infrastruktur pengisian daya di jalur utama Sumatera.
Rombongan tidak hanya melintas, tetapi juga menguji langsung beragam tipe pengisi daya yang tersedia. Mulai dari unit 30 kW hingga perangkat Ultra-Fast Charging berkapasitas 200 kW yang tersebar di jalur tersebut. Hasil pencatatan ini penting karena menjadi tolok ukur kesiapan infrastruktur, bukan sekadar klaim pabrikan atau pemerintah.
Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, menegaskan bahwa turing ini mengusung tiga semangat "kemerdekaan". Pertama, merdeka dari rasa khawatir karena infrastruktur SPKLU dinilai sudah memadai. Kedua, merdeka menyeberang antarpulau, membuktikan e-mobility tidak lagi terbatas di satu daratan. Ketiga, kemerdekaan dari ketergantungan pada BBM yang membebani anggaran negara.
Selain menguji infrastruktur, KOLEKSI menyoroti kebiasaan buruk pengguna yang kerap menjadikan area SPKLU sebagai tempat parkir. Kendaraan yang tidak dipindahkan setelah baterai penuh menjadi masalah klasik yang menghambat pengguna lain. Lewat kampanye "Cerdas dan Bijak Menggunakan SPKLU", mereka berharap perilaku ini bisa ditekan.
Ini menjadi catatan penting. Infrastruktur yang andal tidak akan berarti banyak jika etika penggunaannya masih acak-acakan. Satu mobil yang parkir lama di SPKLU bisa mengganggu perjalanan puluhan kendaraan lain yang menunggu giliran.
Rombongan juga menguji kelancaran dan keamanan penyeberangan menggunakan Kapal Feri Eksekutif rute Merak-Bakauheni. Langkah ini diambil untuk menepis stigma bahwa membawa kendaraan listrik ke dalam armada penyeberangan laut itu berbahaya. Ketua Panitia Turing, Danny Siwu, menyebut ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir sudah terbentuk dengan baik.
Menurutnya, perjalanan Jakarta-Lampung dengan puluhan mobil listrik kini dapat dilakukan tanpa keraguan. "Melalui turing Silent Across The Strait, kami ingin masyarakat luas melihat langsung bahwa ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir sudah terbentuk dengan baik," ujarnya.
Meski klaim optimistis, ada beberapa hal yang perlu dicermati dari hasil turing ini. Pertama, data yang dikumpulkan berasal dari satu momen perjalanan. Kondisi SPKLU bisa berubah sewaktu-waktu, terutama saat puncak arus mudik atau libur panjang. Kedua, rombongan komunitas biasanya memiliki rencana perjalanan yang terkoordinasi, berbeda dengan perjalanan harian pengguna yang lebih sporadis.
Ketiga, belum ada rincian detail mengenai jumlah mobil yang ikut serta dan berapa kali mobil tersebut harus berhenti untuk mengisi daya. Informasi ini penting untuk menghitung efisiensi waktu tempuh secara riil, terutama bagi pengguna yang terbiasa dengan perjalanan mobil konvensional yang hanya butuh lima menit di pom bensin.
Turing ini adalah langkah positif untuk membangun kepercayaan publik terhadap mobilitas listrik di Indonesia. Inisiatif mendata langsung kondisi SPKLU dan menguji penyeberangan antarpulau adalah bentuk nyata advokasi yang lebih berguna daripada sekadar kampanye di media sosial.
Namun, bagi Anda yang sedang mempertimbangkan membeli mobil listrik untuk kebutuhan perjalanan jauh, hasil turing ini sebaiknya dijadikan salah satu referensi, bukan satu-satunya acuan. Kombinasikan dengan data dari sumber lain, seperti pengalaman pengguna harian atau laporan dari aplikasi SPKLU. Infrastruktur yang memadai adalah fondasi, tapi kesiapan Anda dalam merencanakan rute dan waktu pengisian tetap menjadi penentu utama kenyamanan perjalanan.