ACEH — Manajer Bisnis Pegadaian Cabang Gorontalo Selatan, Ferara Feiberlin, mengungkapkan bahwa aktivitas gadai masyarakat sebenarnya masih berjalan normal. Namun, pola transaksi mulai berubah. "Beberapa transaksi seperti pelunasan dan perpanjangan kredit di beberapa cabang mengalami penurunan," ujarnya kepada awak media, Kamis (20/8/2026).
Kondisi ini dinilai berkaitan erat dengan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Banyak nasabah yang menahan diri untuk melunasi kredit atau memperpanjang masa gadai karena harus memprioritaskan kebutuhan harian di tengah musim kemarau yang menekan aktivitas ekonomi.
Faktor lain yang tak kalah berpengaruh adalah fluktuasi harga emas. Ferara menjelaskan, penyesuaian harga emas secara langsung mengubah besaran pinjaman yang bisa dicairkan nasabah. Ia memberi contoh konkret: ketika harga emas tinggi di awal tahun, satu gram emas bisa menjadi agunan pinjaman sekitar Rp1,8 juta. Kini, dengan harga yang terkoreksi, nilai pinjamannya turun ke kisaran Rp1,4 juta per gram.
"Artinya, ada penyesuaian nilai pinjaman mengikuti harga emas," jelas Ferara. Penurunan ini membuat sebagian nasabah harus merombak ulang rencana keuangan mereka, terutama yang mengandalkan dana segar dari gadai untuk modal usaha atau kebutuhan musiman.
Untuk mencegah nasabah kehilangan barang jaminan, Pegadaian mengaktifkan kembali kebijakan restrukturisasi kredit. Skemanya memberi kelonggaran: nasabah cukup membayar biaya sewa modal terlebih dahulu, sementara kewajiban pokok atau cicilan dapat ditunda.
"Kalau seharusnya pembayaran terdiri dari sewa modal dan cicilan, tetapi dana yang tersedia hanya cukup untuk sewa modal, maka nasabah dapat memanfaatkan restrukturisasi. Untuk cicilannya diberikan kelonggaran sampai 12 bulan," ungkap Ferara.
Selain restrukturisasi, Pegadaian juga membuka opsi penundaan lelang bagi nasabah yang mengajukan permohonan dan memenuhi ketentuan. Kebijakan ini menjadi ruang napas bagi masyarakat yang sedang kesulitan likuiditas agar kreditnya tetap berjalan tanpa harus kehilangan aset.
Di sisi lain, perlambatan juga terasa pada produk Tabungan Emas. Ferara mencatat, minat masyarakat terhadap investasi emas sebenarnya tidak hilang. Yang berubah adalah strategi pembeliannya. "Kalau sebelumnya masyarakat bisa mengambil 50 gram, sekarang mungkin mengambil 10, 15 atau 25 gram. Minat terhadap emas masih ada, tetapi masyarakat lebih menyesuaikan dengan kemampuan keuangannya," katanya.
Pegadaian menilai emas tetap menjadi instrumen investasi jangka panjang yang diminati. Untuk menarik minat di tengah kondisi ini, perusahaan menggelar bazar emas di sejumlah gerai dengan harga yang kompetitif, baik untuk logam mulia maupun perhiasan.
Langkah restrukturisasi ini menjadi bagian dari upaya Pegadaian menjaga portofolio kredit tetap sehat tanpa mengorbankan nasabah. Dengan kelonggaran pembayaran hingga satu tahun, diharapkan masyarakat Gorontalo dapat melewati masa sulit ini tanpa kehilangan akses terhadap layanan keuangan formal.