ACEH — Angkatan Udara AS baru saja merilis Request for Information (RFI) yang menetapkan batas akhir pengumpulan proposal pada 28 September 2026. Program ini mencari rangkaian drone yang bisa menyamar sebagai ancaman nyata, dari drone hobby kelas kecil hingga pesawat pengebom berat.
Untuk kategori peniru jet tempur siluman, drone harus mampu terbang pada kecepatan di atas Mach 1.6 di ketinggian sekitar 40.000 kaki. Kemampuan manuver dengan G-force tinggi juga menjadi syarat utama.
Yang lebih rumit, drone ini harus memancarkan radar signature, emisi inframerah, dan frekuensi radio yang dikontrol ketat agar menyerupai pesawat tempur asli. Ini penting untuk menguji keakuratan sistem panduan dan hulu ledak rudal.
RFI tersebut mencakup beberapa kelas drone dengan spesifikasi berbeda:
Layanan militer AS secara eksplisit menyatakan bahwa keterjangkauan biaya sama pentingnya dengan realisme. Mereka menginginkan sistem yang cukup murah dan sederhana untuk diperlakukan sebagai alat sekali pakai saat uji coba.
Untuk menekan biaya, Angkatan Udara tidak hanya mengandalkan kontraktor pertahanan tradisional. Mereka membuka pintu bagi proposal komersial atau modifikasi produk sipil yang bisa memangkas biaya produksi dibandingkan program lama.
Dorongan untuk mencari drone murah ini bukan tanpa alasan. Setelah keterlibatan militer baru-baru ini di Iran, AS kehilangan sekitar 45 unit drone MQ-9 Reaper—hampir 25 persen dari total armada—dengan kerugian menembus US$ 1,3 miliar. Drone-drone tersebut berhasil dijatuhkan oleh rudal dan drone Iran yang harganya jauh lebih murah.
Kondisi ini membuat Angkatan Udara AS berpikir ulang tentang keseimbangan antara performa tinggi dan biaya operasional. Meski secara fisik mungkin unggul, aspek finansial dari kehilangan aset mahal menjadi beban tersendiri.
Konsep drone target sebenarnya sudah berjalan hampir satu abad, sejak pesawat latih Tiger Moth yang dikonversi di Inggris pada tahun 1930-an. Sejak 2007, Angkatan Udara AS mengandalkan BQM-167A, drone subsonik sepanjang sekitar 20 kaki yang jauh lebih kecil dari jet tempur J-20 China atau bomber H-6.
Mereka juga mengoperasikan QF-16, pesawat F-16 pensiun yang diubah menjadi drone target skala penuh untuk mensimulasikan ancaman generasi keempat. Sayangnya, QF-16 tidak mampu meniru jet siluman modern dan harganya terlalu mahal untuk dikorbankan dalam jumlah besar.
Pertanyaan terbesar kini ada di tangan industri: apakah mereka mampu menghadirkan drone siluman berkecepatan tinggi dengan harga yang masuk akal? Jika jawabannya ya, kita akan melihat era baru pengujian pertahanan udara yang jauh lebih realistis dan hemat biaya.