ACEH — Badan usaha milik negara yang bergerak di bidang klasifikasi kapal ini menilai dekarbonisasi tidak bisa dilakukan secara instan. Prosesnya harus bertahap, dimulai dari bahan bakar yang paling mudah diadopsi oleh kapal-kapal yang sudah beroperasi saat ini.
Direktur Operasi Bisnis Klasifikasi BKI, Arief Budi Permana, mengatakan biodiesel menjadi pilihan paling realistis dalam waktu dekat. Mesin kapal dan infrastruktur pendukungnya dinilai sudah kompatibel, sehingga tidak butuh investasi besar untuk beralih.
"Dekarbonisasi perlu dilihat sebagai spektrum transisi. Biodiesel menjadi opsi yang paling siap dalam jangka pendek karena kompatibilitas mesin dan infrastrukturnya relatif tersedia," ujar Arief dalam Forum Diskusi dan Bimbingan Teknis Green Shipping 2026 di Jakarta, Sabtu (22/6/2026).
Untuk jangka menengah hingga panjang, BKI menyoroti potensi e-methanol. Bahan bakar sintetis ini disebut memiliki kemampuan menekan emisi lebih besar jika dihitung dari seluruh siklus hidupnya, mulai dari produksi hingga pembakaran di kapal.
"Sementara e-methanol menjanjikan untuk jangka menengah hingga panjang dengan potensi penurunan emisi well-to-wake yang lebih besar," tambah Arief.
Namun, peralihan ke bahan bakar baru tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. BKI menekankan perlunya penguatan aspek keselamatan, regulasi, dan kapasitas teknis para pelaku industri pelayaran.
Sebagai lembaga klasifikasi, BKI menyiapkan sejumlah instrumen untuk mendukung transisi ini. Perusahaan menyusun aturan dan notasi kelas untuk kapal berbahan bakar alternatif, melakukan kajian teknis, hingga kajian risiko.
BKI juga berperan dalam verifikasi emisi berdasarkan kerangka internasional seperti Carbon Intensity Indicator (CII), Energy Efficiency Existing Ship Index (EEXI), dan Ship Energy Efficiency Management Plan (SEEMP). Kerangka ini sejalan dengan target Net-Zero yang dicanangkan Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Forum Green Shipping 2026 sendiri menjadi ajang bagi pemangku kepentingan untuk menyamakan persepsi dan memperkuat kapasitas teknis. Tujuannya merumuskan langkah konkret menuju pelayaran domestik yang lebih ramah lingkungan.
BKI mengingatkan bahwa pengelolaan emisi pelayaran tidak bisa hanya berpatokan pada konsumsi bahan bakar di atas kapal. Penilaian harus menyeluruh menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA).
Artinya, emisi dihitung sejak proses produksi bahan bakar, pengolahan, distribusi, hingga saat bahan bakar tersebut digunakan oleh kapal. Dengan cara ini, dampak lingkungan dari setiap jenis bahan bakar bisa terukur lebih akurat.
Inisiatif ini diharapkan mendorong pemilik kapal nasional beradaptasi lebih cepat terhadap regulasi global, sekaligus menjaga industri pelayaran Indonesia tetap kompetitif di tengah tekanan pasar internasional.