ACEH — Setelah menuntaskan 33 film dalam proyek menonton semua karya Denzel Washington, saya sampai juga di "Déjà Vu" (2006) arahan Tony Scott. Ini film yang bikin orang terbelah: sebagian memuji konsepnya yang berani, sebagian lagi menganggapnya kacau balau. Saya pribadi ada di posisi tengah—film ini menghibur di beberapa momen, tapi gagal memenuhi janji premisnya yang sebenarnya menarik.
Doug Carlin (Denzel Washington) adalah agen ATF yang menyelidiki ledakan kapal feri di New Orleans. Investigasinya membawanya bertemu Paul Pryzwarra (Val Kilmer), agen FBI yang memperkenalkan perangkat bernama "Snow White"—alat yang diklaim sebagai sistem pengawasan canggih.
Belakangan terungkap bahwa Snow White bukan sekadar kamera pengintai. Alat ini adalah jendela waktu yang bisa melihat ke masa lalu, tepatnya empat hari enam jam ke belakang. Masalahnya, mereka tidak bisa memundurkan atau mempercepat waktu—hanya bisa mengamati satu titik spesifik. Yang lebih rumit: tidak ada makhluk hidup yang bisa melewati lorong waktu ini karena arus listrik di tubuh manusia akan mati.
Tim lalu memakai Snow White untuk melacak Claire (Paula Patton), korban yang dibunuh pelaku sebelum ledakan terjadi. Strateginya sederhana: ikuti Claire di masa lalu, dan mereka akan melihat siapa pembunuhnya.
Masalah terbesar film ini justru bukan di bagian time-travel-nya, melainkan obsesi Doug terhadap Claire. Dia jatuh cinta pada perempuan yang hanya dilihatnya lewat layar—infatuation yang terasa dangkal dan tidak meyakinkan. Alih-alih fokus mencegah ledakan, Doug malah sibuk menyelamatkan Claire, dan motivasi ini terasa dipaksakan demi menambah elemen drama.
Paradoks waktu memang selalu sulit dieksekusi dengan rapi, dan "Déjà Vu" tidak luput dari masalah ini. Beberapa plot hole muncul karena semuanya berakhir "kebetulan pas" demi menghindari paradoks. Saya tidak akan spoiler, tapi cukup bilang: ada beberapa momen di mana kamu akan mengernyit dan bertanya, "Serius, segampang itu?"
Twist utamanya juga tidak begitu mengejutkan. Penonton yang terbiasa dengan film bergenre ini bisa menebak pelaku sejak awal, sehingga momen "reveal" terasa datar.
Meski banyak kekurangan, "Déjà Vu" punya satu sekuens yang benar-benar seru: adegan Doug mengemudi di jalan raya New Orleans sambil memakai helm dengan layar Snow White, mengejar tersangka di masa lalu sambil berkendara di masa kini. Adegan ini menegangkan, memanfaatkan konsep jendela waktu dengan cara yang cerdas, dan menunjukkan kenapa Tony Scott piawai menyutradarai aksi.
Kimia antara Denzel Washington dan Val Kilmer juga cukup solid, meski porsi Kilmer tidak sebesar yang dijanjikan judul. Penampilan Washington tetap karismatik seperti biasa—dia bisa membuat dialog yang biasa saja terasa berbobot.
Kelebihan "Déjà Vu": premis time-travel yang unik, aksi yang menghibur di beberapa bagian, dan akting Washington yang solid. Kekurangannya: alur cinta yang dipaksakan, plot hole yang mengganggu, dan twist yang bisa ditebak.
Masalah lainnya, film ini tidak tersedia di layanan streaming mana pun—baik yang gratis maupun berbayar. Kamu harus menyewa atau membelinya di Prime Video atau toko digital lain. Sewa Rp 15 ribu saja terasa mahal untuk kualitas yang ditawarkan. Kalau suatu saat masuk katalog Netflix atau Disney+ Hotstar, baru worth it untuk ditonton.
Rekomendasi saya: "Déjà Vu" cocok buat penggemar berat Denzel Washington atau penggemar film sci-fi yang tidak terlalu ketat soal logika. Buat yang mencari film time-travel dengan aturan yang rapi dan memuaskan, lewati saja dan cari tontonan lain.