Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh Dua Digit, Konvensional Sumbang Rp85,18 Triliun

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Selasa, 01 September 2026 | 09:04:31 WIB
Ketua AAJI Albertus Wiroyo memaparkan capaian premi bisnis baru asuransi jiwa dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).

ACEH — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan, pertumbuhan tersebut ditopang oleh lompatan perolehan premi bisnis baru yang kembali menyentuh level dua digit. Pencapaian ini menjadi sinyal pemulihan daya beli masyarakat terhadap produk proteksi sekaligus pendorong utama pendapatan industri.

"Konvensional masih menjadi kontributor utama dengan premi sebesar Rp85,18 triliun atau tumbuh 12,7 persen. Kalau kita lihat premi baru, tumbuhnya dua digit dan ini perkembangan positif yang perlu kita jaga, bukan hanya tumbuh besarnya tapi juga kualitasnya," ujar Ketua AAJI Albertus Wiroyo dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Berdasarkan laporan keuangan unaudited yang dihimpun dari 56 perusahaan asuransi jiwa, kinerja gemilang unit konvensional berbanding terbalik dengan unit usaha syariah. Segmen ini justru mencatatkan premi Rp9,57 triliun atau terkontraksi dalam hingga 20,2 persen.

Kontraksi Syariah dan Pergeseran Pangsa Pasar

Anjloknya perolehan premi syariah menciptakan dinamika baru dalam komposisi industri. Kontribusi unit syariah terhadap total pendapatan premi semakin mengecil di tengah agresivitas kanal konvensional yang diuntungkan oleh jaring distribusi yang lebih luas.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai strategi pengembangan produk syariah ke depan. Padahal, regulator dan industri sebelumnya gencar mendorong pertumbuhan keuangan syariah sebagai bagian dari inklusi keuangan nasional.

Bagi perusahaan asuransi jiwa, disparitas pertumbuhan ini menjadi bahan evaluasi. Efisiensi saluran distribusi dan inovasi produk menjadi kata kunci untuk mengejar ketertinggalan di segmen syariah, sementara lini konvensional perlu menjaga momentum agar kualitas pertumbuhan tidak sekadar mengejar volume.

Sentimen Positif di Tengah Normalisasi Ekonomi

Lonjakan premi bisnis baru dua digit menjadi indikator optimisme pelaku usaha terhadap prospek industri. Pertumbuhan ini juga menandakan bahwa aktivitas ekonomi yang menguat sepanjang paruh pertama 2026 mulai berdampak pada peningkatan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi pada produk proteksi jangka panjang.

Namun, AAJI mengingatkan agar perusahaan tidak berpuas diri. Pertumbuhan yang berkualitas menjadi fokus utama, mengingat ketahanan industri dalam jangka panjang tidak hanya diukur dari besarnya premi masuk, melainkan juga dari tingkat retensi dan manajemen risiko yang prudent.

Ke depan, kemampuan industri untuk menyeimbangkan pertumbuhan antara lini konvensional dan syariah akan menentukan daya saing sektor ini di tengah kompetisi dengan produk keuangan lainnya.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top