ACEH — Kabar pemangkasan ini pertama kali dilaporkan oleh BBC dan akan berdampak signifikan pada operasional perusahaan, terutama di kantor pusat yang berbasis di Inggris. JLR berharap proses pengurangan karyawan ini bisa berjalan melalui skema sukarela, dengan periode pendaftaran yang dibuka hingga 4 Oktober mendatang.
Karyawan yang terdampak akan menerima pemberitahuan resmi melalui email dalam beberapa hari ke depan. CEO Jaguar Land Rover, PB Balaji, menegaskan komitmennya untuk mendukung seluruh pihak selama masa transisi ini.
"Industri otomotif menghadapi tantangan besar, mulai dari perubahan teknologi di tengah persaingan ketat hingga ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut," ujar Balaji.
Awalnya, China dipandang JLR sebagai pasar potensial untuk pertumbuhan bisnis. Namun, realita di lapangan justru berkata lain. Produsen mobil asal China kini menjelma menjadi kompetitor paling agresif yang menggerus pangsa pasar JLR secara perlahan.
Persaingan ini bukan lagi soal harga, tapi juga teknologi dan kecepatan inovasi yang ditawarkan pabrikan China. Kondisi ini memaksa JLR untuk mencari efisiensi di tengah tekanan yang semakin kompleks.
Kebijakan tarif yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump menjadi pukulan telak bagi JLR. Pasalnya, pabrikan asal Inggris ini tidak memiliki pabrik di Amerika Serikat, sehingga biaya impor menjadi lebih mahal dan daya saingnya melemah di pasar tersebut.
Masalah JLR kian pelik akibat serangan siber tahun lalu. Insiden tersebut memaksa perusahaan menghentikan produksi selama lebih dari sebulan. Dampaknya terlihat jelas dalam laporan kinerja keuangan untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret lalu.
Dalam laporan keuangan tersebut, JLR menyebut tarif AS dan serangan siber sebagai penyebab utama penurunan penjualan. Pendapatan perusahaan merosot menjadi £22,9 miliar dari periode sebelumnya yang mencapai £29 miliar—sebuah penurunan sebesar seperlima.
Penghematan biaya £1,7 miliar dalam dua tahun ke depan menjadi tameng utama JLR untuk bertahan. Pertanyaannya sekarang, apakah langkah efisiensi ini cukup untuk menghadapi badai persaingan global yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda?