BANDA ACEH — Minat baca perempuan di ibu kota Provinsi Aceh ini tak surut meski teknologi digital berkembang pesat. Data kunjungan menunjukkan dominasi kelompok perempuan dan anak-anak dibandingkan pengunjung lainnya di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh.
Syukriah menyampaikan, perkembangan minat baca tersebut terlihat dinamis. Program wisata literasi yang digulirkan turut mendorong kunjungan anak-anak sekolah ke perpustakaan.
Gempuran Gawai vs Sensasi Membaca Buku
Di balik tren positif itu, Syukriah mengakui teknologi digital menghadirkan tantangan serius. Banyak perempuan dan remaja kini lebih memilih menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial ketimbang membaca buku.
“Teknologi digital sangat menarik, tetapi ada perbedaan sensasi dan kualitas antara membaca digital dengan buku,” katanya dalam dialog yang digelar Senin (7/9/2026).
Ia menilai interaksi langsung dengan buku memberikan pengalaman membaca yang lebih bermakna. Membaca buku memang membutuhkan waktu dan konsentrasi lebih besar, berbeda dengan akses informasi instan dari gawai.
Tiga Faktor Penghambat Minat Baca
Syukriah memetakan tiga faktor utama yang memengaruhi rendahnya minat baca sebagian masyarakat. Ketiganya saling berkaitan dan perlu diurai bersama.
- Persaingan waktu dengan gawai yang menawarkan akses cepat dan praktis.
- Keterbatasan bahan bacaan yang belum tentu sesuai kebutuhan dan minat masyarakat.
- Lingkungan literasi yang belum sepenuhnya membiasakan aktivitas membaca dan berdiskusi.
Perpustakaan Gampong untuk Ekonomi Keluarga
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banda Aceh merespons faktor keterbatasan bahan bacaan dengan menyediakan koleksi yang relevan. Buku-buku pemberdayaan, termasuk bahan bacaan untuk pengembangan usaha, kini tersedia di perpustakaan.
Koleksi itu didukung program perpustakaan berbasis pemberdayaan masyarakat di tingkat gampong. Harapannya, warga tidak hanya membaca, tetapi mampu menerapkan pengetahuan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
Diskusi Kunci Terapkan Isi Bacaan
Faktor lingkungan menjadi perhatian terakhir dalam membangun budaya literasi berkelanjutan. Syukriah menekankan pentingnya kebiasaan berdiskusi setelah membaca untuk memperkuat pemahaman.
“Setelah membaca, perlu ada diskusi agar pembaca memahami poin yang bisa diterapkan sehari-hari,” ujarnya.
Ia berharap budaya membaca dan berdiskusi semakin berkembang di lingkungan keluarga maupun sekolah. Dengan begitu, manfaat bacaan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berujung pada perubahan perilaku dan kesejahteraan.