BANDA ACEH — Agusni AH, penyair dan penulis yang karyanya kerap menghadirkan sentuhan puitis mendalam, baru saja merilis cerpen berjudul “Membatu”. Cerita pendek ini mengisahkan sepasang suami-istri yang perlahan tenggelam dalam dinginnya perasaan dan kerasnya ego, hingga akhirnya berujung pada perceraian setelah talak tiga terucap.
Lewat alur yang mengalir lirih, “Membatu” bukan sekadar kisah tentang patah hati dan perpisahan. Cerpen ini juga menyoroti bahaya amarah yang dibiarkan menguasai diri dalam rumah tangga, serta pentingnya menjaga lisan sebagai seorang Muslim.
Mengapa “Membatu” Bukan Sekadar Cerita Perceraian Biasa?
Dalam cerpen ini, Agusni menghadirkan balada sunyi tentang retaknya hubungan yang bermula dari diam dan luka yang dipendam. Tokoh perempuan digambarkan tenggelam dalam kelelahan batin setelah terlalu lama berbicara dengan suami yang ia sebut “seonggok makhluk seperti tak bernyawa”.
Sementara sang suami, yang selalu kalah oleh diamnya sendiri, akhirnya melontarkan kata-kata yang tak bisa ditarik kembali. “Sejujurnya aku masih sangat menyintaimu,” ungkap tokoh lelaki di penghujung cerita, namun semuanya telah terlambat.
Pesan Mendalam: Hancurnya Harapan dan Jalan Pulang
Melalui “Membatu”, Agusni seolah mengingatkan bahwa keputusan yang diambil saat emosi memuncak bisa menghancurkan bukan hanya ikatan dua insan, melainkan juga harapan, kenangan, dan jalan pulang yang perlahan lenyap tanpa sisa. “Kau bukan tak pandai mencinta. Kau hanya terlalu sibuk menyembunyikan hati sampai akhirnya benar-benar kehilangan rasa,” begitu kutipan tokoh perempuan yang menjadi inti dari konflik batin dalam cerpen ini.
Cerpen “Membatu” karya Agusni AH dapat disimak selengkapnya melalui kanal sastra DIALEKSIS.COM. Karya ini menjadi pengingat bagi setiap pasangan untuk senantiasa menjaga komunikasi dan menahan diri sebelum kata-kata menjadi luka yang membatu.