BANDA ACEH — Illiza Sa’aduddin Djamal, anggota DPR RI asal Aceh, menyebut bahwa bentuk penghargaan dan dukungan terhadap pendidikan di lingkungan keluarga menjadi faktor krusial yang menentukan masa depan anak. Menurutnya, banyak orang tua saat ini lebih fokus pada pencapaian akademis semata, namun melupakan aspek psikologis dan emosional yang dibutuhkan anak selama proses belajar.
Mengapa Penghargaan Orang Tua Lebih Penting dari Nilai Rapor?
Dalam pandangan Illiza, penghargaan tidak selalu berarti hadiah mahal. Ia mencontohkan, sekadar meluangkan waktu untuk mendengar cerita anak tentang sekolah atau mengapresiasi usaha mereka dalam menyelesaikan tugas sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti. "Anak-anak butuh diakui perjuangannya, bukan hanya dihakimi hasilnya," ujarnya dalam kesempatan tersebut.
Politikus dari Partai Persatuan Pembangunan ini menambahkan, tekanan akademis yang berlebihan tanpa diimbangi dukungan emosional justru bisa memicu stres pada anak. Ia mendorong para orang tua di Aceh untuk lebih aktif terlibat dalam proses pendidikan, bukan sekadar menitipkan anak sepenuhnya ke sekolah.
Keluarga Sebagai Benteng Pertama Pendidikan Karakter
Illiza menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke lembaga formal. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab, menurutnya, paling efektif ditanamkan sejak dini di rumah. "Sekolah mengajarkan ilmu, keluarga mengajarkan makna," katanya.
Ia juga menyoroti tantangan era digital yang membuat interaksi orang tua dan anak semakin berkurang. Kebiasaan memberikan gawai kepada anak tanpa pendampingan, disebutnya, menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pembentukan karakter generasi muda Aceh saat ini.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua Mulai Sekarang?
Illiza memberikan beberapa contoh sederhana yang bisa langsung diterapkan. Mulai dari menyediakan waktu khusus tanpa gangguan gawai saat makan malam, hingga mendiskusikan pelajaran yang sulit dengan sabar. Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak membanding-bandingkan prestasi anak dengan tetangga atau saudara.
"Setiap anak punya kecepatan belajar yang berbeda. Tugas kita adalah mendampingi, bukan memaksa," pungkasnya. Pernyataan ini mendapat sambutan positif dari para peserta diskusi yang hadir, sebagian besar berasal dari kalangan guru dan pegiat pendidikan di Aceh.