Target 75 Ribu Motor Listrik Nasional 2026: Kapasitas Pabrik 100 Ribu Unit, TKDN 60 Persen

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:36:31 WIB
Presiden Prabowo Subianto meresmikan program motor listrik nasional (Molinas) di Aceh dengan kapasitas produksi tahunan 100 ribu unit.

ACEH — Presiden Prabowo Subianto meresmikan program Molinas dalam sebuah acara yang juga memamerkan beberapa merek lokal seperti Alva dan Gesits. Satu model bernama Cakra NX1 ikut tampil di panggung peresmian, dengan desain yang nyaris identik dengan Alva N3. Belum ada detail teknis resmi soal siapa pabrikan di balik Cakra NX1 dan bagaimana skema produksinya.

Bukan Sekadar Jualan Motor, tapi Ekosistem Utuh

Program ini dirancang bukan sebagai peluncuran satu merek kendaraan. Berdasarkan keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Molinas mencakup ekosistem menyeluruh: industri, baterai, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, charging dan battery swapping, hingga penyerapan pasar.

PT Len Industri ditunjuk sebagai Lead Integrator, bagian dari Holding Defend ID. Perusahaan ini akan mengorkestrasi kolaborasi seluruh pemangku kepentingan — dari hulu komponen hingga hilir layanan purna jual.

Kapasitas Produksi dan Target Komponen Lokal

Kapasitas produksi dipatok 100 ribu unit per tahun. Untuk tahun ini, target produksi ditetapkan 75 ribu unit. Penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) ditargetkan menembus 60 persen.

Bakom memproyeksikan permintaan motor listrik akan melonjak signifikan pada 2028, mencapai 1,5 juta unit. Jika kapasitas produksi berjalan sesuai rencana, dampak ekonomi diperkirakan mencapai Rp 150 triliun dan menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja.

Klaim Penghematan 50-70 Persen: Perlu Diverifikasi

Presiden Prabowo menyebut pengguna motor listrik bisa menghemat minimal 50 persen pengeluaran harian dibanding motor bensin, bahkan sampai 70 persen. "Jadi nanti kalau masih ada yang pakai motor bensin yah rasain sendiri. Tadi kita hitung memakai motor listrik dibandingkan motor bensin penghematannya minimal 50 persen," ujar Prabowo saat peresmian.

Angka ini perlu diverifikasi dengan kondisi nyata. Penghematan sangat tergantung pada tarif listrik rumah, efisiensi charger, dan kebiasaan berkendara. Biaya penggantian baterai di tahun ke-3 atau ke-5 juga belum masuk hitungan — komponen ini biasanya menyumbang 30-40 persen dari harga motor listrik.

Kemudahan Pembelian: DP Nol dan Cicilan Ringan

Pemerintah berjanji memberi kemudahan pembelian berupa peniadaan uang muka dan cicilan ringan. Skema ini diharapkan mendorong adopsi di segmen pengguna harian yang selama ini memakai motor bensin untuk mobilitas kerja.

Yang belum jelas dari pengumuman ini: siapa yang menanggung risiko kredit macet, bagaimana skema residual value baterai, dan apakah bantuan ini berlaku untuk semua merek atau hanya yang masuk ekosistem Molinas. Tanpa kejelasan ini, konsumen sulit menghitung total biaya kepemilikan (total cost of ownership) secara akurat.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Beli

Beberapa catatan penting sebelum kamu memutuskan membeli motor listrik nasional:

  • Jaringan servis — pastikan ada dealer atau bengkel resmi di kotamu. Motor listrik butuh perawatan berkala yang berbeda dari motor bensin, dan tidak semua bengkel umum bisa menanganinya.
  • Harga baterai — tanyakan biaya penggantian baterai dan garansinya. Beberapa merek memberi garansi 3 tahun atau 30 ribu km, tapi biaya penggantian bisa mencapai belasan juta rupiah.
  • Infrastruktur charging — kalau tidak punya garasi dengan stopkontak, hitung ulang. Mengandalkan battery swapping hanya masuk akal kalau stasiun tukar baterai tersebar di rute harianmu.
  • TKDN 60 persen — angka ini masih target, bukan realisasi. Ketersediaan komponen lokal akan memengaruhi harga jual dan ketersediaan unit di pasaran.

Program Molinas adalah langkah serius untuk menekan subsidi BBM dan memperbaiki neraca dagang energi — potensi penghematannya disebut mencapai Rp 82,2 triliun. Tapi bagi konsumen, keputusan membeli tetap harus berdasarkan hitungan biaya per kilometer, ketersediaan layanan purna jual, dan nilai jual kembali. Sampai infrastruktur dan skema pembiayaan benar-benar berjalan di lapangan, motor listrik nasional masih lebih cocok untuk pengguna dengan mobilitas perkotaan yang rutin dan akses charging di rumah.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top