ACEH — Presiden Prabowo Subianto meresmikan program Molinas dalam sebuah acara yang juga memamerkan beberapa merek lokal seperti Alva dan Gesits. Satu model bernama Cakra NX1 ikut tampil di panggung peresmian, dengan desain yang nyaris identik dengan Alva N3. Belum ada detail teknis resmi soal siapa pabrikan di balik Cakra NX1 dan bagaimana skema produksinya.
Program ini dirancang bukan sebagai peluncuran satu merek kendaraan. Berdasarkan keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Molinas mencakup ekosistem menyeluruh: industri, baterai, pembiayaan, distribusi, layanan purnajual, charging dan battery swapping, hingga penyerapan pasar.
PT Len Industri ditunjuk sebagai Lead Integrator, bagian dari Holding Defend ID. Perusahaan ini akan mengorkestrasi kolaborasi seluruh pemangku kepentingan — dari hulu komponen hingga hilir layanan purna jual.
Kapasitas produksi dipatok 100 ribu unit per tahun. Untuk tahun ini, target produksi ditetapkan 75 ribu unit. Penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) ditargetkan menembus 60 persen.
Bakom memproyeksikan permintaan motor listrik akan melonjak signifikan pada 2028, mencapai 1,5 juta unit. Jika kapasitas produksi berjalan sesuai rencana, dampak ekonomi diperkirakan mencapai Rp 150 triliun dan menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja.
Presiden Prabowo menyebut pengguna motor listrik bisa menghemat minimal 50 persen pengeluaran harian dibanding motor bensin, bahkan sampai 70 persen. "Jadi nanti kalau masih ada yang pakai motor bensin yah rasain sendiri. Tadi kita hitung memakai motor listrik dibandingkan motor bensin penghematannya minimal 50 persen," ujar Prabowo saat peresmian.
Angka ini perlu diverifikasi dengan kondisi nyata. Penghematan sangat tergantung pada tarif listrik rumah, efisiensi charger, dan kebiasaan berkendara. Biaya penggantian baterai di tahun ke-3 atau ke-5 juga belum masuk hitungan — komponen ini biasanya menyumbang 30-40 persen dari harga motor listrik.
Pemerintah berjanji memberi kemudahan pembelian berupa peniadaan uang muka dan cicilan ringan. Skema ini diharapkan mendorong adopsi di segmen pengguna harian yang selama ini memakai motor bensin untuk mobilitas kerja.
Yang belum jelas dari pengumuman ini: siapa yang menanggung risiko kredit macet, bagaimana skema residual value baterai, dan apakah bantuan ini berlaku untuk semua merek atau hanya yang masuk ekosistem Molinas. Tanpa kejelasan ini, konsumen sulit menghitung total biaya kepemilikan (total cost of ownership) secara akurat.
Beberapa catatan penting sebelum kamu memutuskan membeli motor listrik nasional:
Program Molinas adalah langkah serius untuk menekan subsidi BBM dan memperbaiki neraca dagang energi — potensi penghematannya disebut mencapai Rp 82,2 triliun. Tapi bagi konsumen, keputusan membeli tetap harus berdasarkan hitungan biaya per kilometer, ketersediaan layanan purna jual, dan nilai jual kembali. Sampai infrastruktur dan skema pembiayaan benar-benar berjalan di lapangan, motor listrik nasional masih lebih cocok untuk pengguna dengan mobilitas perkotaan yang rutin dan akses charging di rumah.