Deteksi Dini Risiko ASI Tidak Lancar Bisa Dimulai Saat Hamil

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 10:05:01 WIB
Deteksi dini risiko ASI tidak lancar dapat dilakukan sejak masa kehamilan melalui skrining oleh tenaga kesehatan.

ACEH — Kekhawatiran tentang produksi ASI yang kurang atau bayi yang sulit menyusu sering membayangi ibu hamil. Namun sebuah penelitian terbaru dari para ahli laktasi membawa angin segar: risiko kesulitan menyusui bisa dikenali lebih awal, bahkan sebelum buah hati lahir. Dengan deteksi dini, Bunda tidak perlu berjuang sendirian atau menebak-nebak penyebab ASI tidak lancar.

Kenapa kesulitan menyusui bisa diprediksi sejak hamil?

Peneliti Dr. Sharon Perrella dari Centre for Human Lactation Research and Translation, The University of Western Australia, mengembangkan alat skrining yang dirancang untuk tenaga kesehatan. Alat ini membantu mengenali faktor risiko laktasi yang sudah ada sebelum persalinan. Tujuannya jelas: memberikan edukasi dan konseling laktasi yang lebih personal sejak masa kehamilan.

Studi yang dimuat di Journal of Midwifery & Women's Health pada 2026 ini menyoroti beberapa kondisi yang bisa menjadi penanda awal. Di antaranya adalah diabetes gestasional, sindrom polikistik ovarium (PCOS), indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi sebelum hamil, serta riwayat operasi payudara. Kondisi-kondisi ini berkaitan erat dengan potensi produksi ASI yang lebih rendah setelah melahirkan.

Seperti apa cara kerja skrining risiko menyusui ini?

Konsepnya sederhana dan praktis. Saat pemeriksaan kehamilan rutin, tenaga kesehatan akan menanyakan sejumlah hal terkait kesehatan Bunda dan riwayat menyusui sebelumnya. Informasi ini kemudian dinilai untuk melihat apakah ada faktor yang meningkatkan kemungkinan masalah laktasi.

Jika ditemukan risiko, Bunda bisa langsung diarahkan ke konselor laktasi untuk mendapatkan edukasi intensif sebelum persalinan. Ini berarti Bunda tidak perlu menunggu sampai bayi lahir dan mengalami masalah dulu baru mencari bantuan. Perencanaan dukungan menyusui pun bisa disiapkan jauh-jauh hari.

Penelitian ini menegaskan bahwa skrining antenatal membantu tenaga kesehatan memberikan konseling yang lebih individual, edukasi, serta rencana dukungan yang matang.

Bukan cuma fisik, ini yang juga ikut menentukan

Perlu dipahami, kesulitan menyusui tidak melulu soal kondisi fisik. Stres psikososial, gangguan metabolik, hingga intervensi saat persalinan juga bisa menjadi pemicu gangguan laktasi. Hal ini diungkap dalam studi lain yang diterbitkan di Maternal & Child Nutrition pada 2026.

Karena itu, alat skrining bukanlah vonis. Hasilnya bukan menentukan Bunda "pasti bisa" atau "pasti gagal" menyusui. Justru sebaliknya, hasil skrining menjadi alarm awal untuk menentukan bentuk dukungan apa yang paling Bunda butuhkan, baik secara fisik maupun mental.

Sebenarnya, gagasan ini bukan hal yang baru

Upaya memetakan risiko menyusui sejak hamil sudah dimulai beberapa tahun lalu. Sebuah penelitian dari Journal of Perinatal Education pada 2019 menggunakan Breastfeeding Attrition Prediction Tool (BAPT) untuk mengidentifikasi ibu yang berisiko berhenti menyusui lebih awal. Hasilnya, ibu dengan skor risiko tinggi terbukti memiliki intensitas menyusui yang lebih rendah di delapan minggu pertama.

Peneliti lain, Kronborg dan Vaeth, juga mengembangkan Breastfeeding Score yang dimuat dalam jurnal Nutrients pada 2019. Alat ini menggunakan pertanyaan sederhana seputar edukasi menyusui, pengalaman sebelumnya, kepercayaan diri, dan rasa aman ibu. Hasilnya cukup akurat untuk membedakan ibu yang berisiko berhenti menyusui lebih cepat.

Kabar baiknya lagi, ada juga alat skrining yang bisa digunakan Bunda setelah melahirkan. Dikutip dari International Breastfeeding Journal pada 2025, Breastfeeding Education and Screening Tool (BEST) dirancang sebagai alat skrining mandiri untuk menilai kondisi menyusui di awal periode postpartum. Ini memudahkan Bunda mendeteksi masalah lebih dini tanpa harus menunggu jadwal kontrol.

Jadi, apakah Bunda sedang hamil dan khawatir soal ASI? Bicarakan sejak sekarang dengan dokter atau bidan mengenai riwayat kesehatan dan rencana menyusui. Dukungan yang dimulai lebih awal akan membuat perjalanan menyusui Bunda terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top