520 Manuskrip Kuno Aceh Direstorasi Usai Banjir Akhir 2025, Tersebar di 9 Kabupaten dan Kota

Penulis: Faisal Hasbi  •  Rabu, 09 September 2026 | 07:16:01 WIB
Manuskrip kuno Aceh menjalani restorasi darurat usai rusak akibat banjir besar akhir 2025 di sembilan kabupaten dan kota.

BANDA ACEH — Banjir besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 meninggalkan duka mendalam bagi pegiat sejarah. Selain merendam ribuan rumah, bencana itu juga merusak 520 manuskrip kuno yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota. Naskah-naskah bernilai sejarah tinggi itu kini tengah menjalani proses restorasi darurat.

Manuskrip tersebut bukan sekadar tumpukan kertas tua. Di dalamnya terkandung rekaman pengetahuan, tradisi, hingga perjalanan peradaban Aceh yang diwariskan turun-temurun. Kerusakan akibat rendaman air dan lumpur membuat proses penyelamatan menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda.

Apa Saja Isi Manuskrip yang Diselamatkan?

Koleksi yang direstorasi umumnya berupa naskah keagamaan, catatan sejarah kerajaan, hukum adat, hingga karya sastra Melayu dan Arab. Beberapa di antaranya diperkirakan berusia lebih dari satu abad dan menjadi rujukan utama para peneliti dari dalam maupun luar negeri.

Kondisi fisik manuskrip setelah banjir sangat memprihatinkan. Banyak halaman yang saling menempel, tinta luntur, dan sebagian kertas mulai hancur. Para konservator harus bekerja ekstra hati-hati untuk memisahkan lembaran yang menggumpal tanpa merusak tulisan aslinya.

Bagaimana Proses Restorasi Dilakukan?

Proses perbaikan diawali dengan pembersihan lumpur dan jamur menggunakan kuas halus serta teknik khusus. Setiap lembar dikeringkan secara perlahan di ruangan dengan suhu dan kelembapan yang terkontrol. Setelah kering sempurna, halaman yang robek disambung menggunakan kertas Jepang dan lem khusus yang tidak mengandung asam.

Metode ini dipilih untuk memastikan tinta dan bahan asli kertas tidak mengalami kerusakan lebih lanjut. Para ahli restorasi juga mendokumentasikan setiap tahapan agar data kondisi naskah tercatat secara digital.

Mengapa Upaya Ini Dianggap Krusial?

Manuskrip merupakan sumber primer yang tidak tergantikan. Jika koleksi ini sampai rusak permanen, maka banyak pengetahuan lokal yang mustahil direkonstruksi ulang. Upaya restorasi ini juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga warisan leluhur bagi generasi mendatang.

Pekerjaan restorasi melibatkan tim konservator yang berkolaborasi dengan pemilik naskah, baik itu perorangan, dayah, maupun lembaga pemerintahan di tingkat kabupaten dan kota. Keterlibatan pemilik menjadi penting karena mereka biasanya memiliki informasi mengenai asal-usul dan konteks historis naskah.

Setelah proses restorasi selesai, langkah berikutnya adalah digitalisasi. Pembuatan salinan digital dinilai penting untuk memperluas akses publik tanpa harus bersentuhan langsung dengan naskah asli yang kini semakin rapuh. Langkah ini sekaligus menjadi cadangan jika suatu saat naskah fisik mengalami kerusakan di luar dugaan.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top