ACEH — Data penjualan Agustus 2026 memperlihatkan dua wajah berbeda dari operasi Tesla di China. Di pasar domestik, permintaan terhadap kendaraan Tesla terus melemah, sementara lini produksi di Shanghai justru sibuk memasok pasar luar negeri.
Angka 50.047 unit yang terjual secara ritel pada Agustus memang turun 12,4 persen secara tahun-ke-tahun dari 57.152 unit pada Agustus tahun lalu. Namun jika dibandingkan Juli 2026 yang hanya mencatat 27.249 unit, ada kenaikan bulanan sebesar 83,7 persen.
Pabrik Tesla di Shanghai mengekspor 36.119 kendaraan pada Agustus 2026, naik 38,7 persen secara year-on-year. Ini menandai pertumbuhan ekspor selama delapan bulan berturut-turut, meski turun 45,6 persen dari rekor 66.330 unit pada Juli.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, ekspor dari Shanghai melonjak 114,7 persen menjadi 331.443 unit. Angka ini jauh melampaui penjualan domestik Tesla di China yang hanya 316.251 unit pada periode yang sama, turun 12,4 persen dibanding tahun lalu.
Penurunan penjualan ritel tiga bulan berturut-turut menunjukkan Tesla menghadapi tekanan berat di pasar EV terbesar dunia. Merek lokal seperti BYD, Nio, dan Xiaomi terus menggencarkan model baru dengan harga kompetitif dan fitur yang menyesuaikan selera konsumen China.
Meski demikian, kapasitas produksi Shanghai yang tetap tinggi dan orientasi ekspor yang menguat memperlihatkan Tesla memilih mengalihkan sebagian beban penjualan ke pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia Tenggara.
Bagi konsumen Indonesia, dinamika ini relevan karena Tesla Model 3 dan Model Y yang dijual di pasar lokal sebagian besar berasal dari jalur produksi Shanghai. Jika orientasi ekspor terus menguat, ketersediaan unit dan waktu pengiriman ke Indonesia berpotensi lebih stabil, meski harga masih bergantung pada kebijakan pajak dan kurs.