Pencarian

Mahasiswi Banda Aceh di Teheran Terlantar, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan

Rabu, 06 Mei 2026 • 12:42:01 WIB
Mahasiswi Banda Aceh di Teheran Terlantar, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan
Laili Lukman, mahasiswi Banda Aceh di Teheran, menghadapi kesulitan hidup akibat penutupan asrama kampus.

Laili Lukman, mahasiswi asal Banda Aceh di Teheran, Iran, kini terlantar setelah asrama kampusnya ditutup akibat eskalasi konflik Timur Tengah. Kondisi ekonomi yang memburuk dan inflasi tinggi membuat alumni UIN Ar-Raniry ini kesulitan memenuhi kebutuhan pokok secara mandiri. Pemerintah Aceh didesak segera memberikan bantuan darurat bagi mahasiswa yang terdampak di kawasan tersebut.

BANDA ACEH — Laili Lukman, mahasiswi program S2 di Ahlul Bayt International University, Teheran, harus berjuang bertahan hidup di tengah kecamuk konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sejak pihak kampus menutup fasilitas asrama selama satu semester penuh, mahasiswi asal Banda Aceh ini terpaksa menumpang di kediaman rekannya dengan biaya hidup yang sepenuhnya ditanggung sendiri.

Kondisi keamanan yang tidak menentu di Timur Tengah kini mulai merembet pada krisis kesejahteraan mahasiswa Indonesia. Laili, yang merupakan alumni Hukum Pidana Islam dan Kriminologi UIN Ar-Raniry, mengungkapkan bahwa ia kini berada dalam posisi sulit karena melonjaknya harga kebutuhan pokok di Iran.

Biaya Hidup Melambung dan Akses Internet Terbatas

Pelemahan mata uang Iran terhadap valuta asing memperparah situasi ekonomi di Teheran. Laili menyebutkan, inflasi yang tinggi membuat harga pangan melonjak drastis tepat saat dirinya kehilangan akses fasilitas asrama dan konsumsi dari kampus.

“Dari awal perang sampai sekarang, mata uang Iran terus melemah dan harga kebutuhan naik. Semua kebutuhan sehari-hari, transportasi ke kampus, hingga internet harus saya tanggung sendiri,” ujar Laili kepada media, Rabu (6/5/2026).

Persoalan komunikasi juga menjadi kendala serius. Pemerintah setempat membatasi akses internet internasional, sehingga mahasiswa harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli layanan VPN khusus agar tetap bisa terhubung dengan keluarga dan mengakses materi akademik.

“Untuk internet internasional, kami harus pakai VPN khusus. Biaya 10 GB bisa sampai Rp500 ribu, ini sangat memberatkan,” jelasnya.

Pemerintah Aceh Didesak Beri Bantuan Darurat

Situasi yang menimpa Laili memicu reaksi dari berbagai pihak di Aceh. Azwir Nazar, mantan Presiden PPI Turki sekaligus alumni S3 Komunikasi Politik Hacettepe University, mendesak Pemerintah Aceh untuk segera memetakan dan membantu mahasiswa yang terjebak di zona konflik.

Azwir mengaku telah menerima laporan mengenai kondisi mahasiswi asal Aceh di Teheran yang harus mencari tempat tinggal sendiri tanpa dukungan finansial dari pihak kampus yang terdampak perang.

“Pemerintah perlu hadir membantu, apalagi biaya hidup saat ini meningkat tajam dan situasi di sana belum kondusif,” tegas Azwir.

Menurut Azwir, yang juga menjabat sebagai Sekjen Panglima Laot Aceh, langkah konkret dari pemerintah daerah sangat diperlukan agar proses studi mahasiswa tidak terhenti di tengah jalan akibat kendala biaya hidup.

Belajar dari Pengalaman Krisis Mahasiswa di Luar Negeri

Krisis yang dialami mahasiswa Aceh di Iran ini menambah daftar panjang tantangan perlindungan warga negara di luar negeri. Azwir mengingatkan bahwa pola serupa pernah terjadi pada mahasiswa Indonesia saat krisis di Mesir, Turki, hingga Sudan beberapa waktu lalu.

Respons cepat dari pemerintah daerah dinilai krusial, mengingat mahasiswa seringkali menjadi kelompok yang paling rentan saat terjadi gejolak politik dan ekonomi di negara tempat mereka menempuh pendidikan.

“Kita berharap Pemerintah Aceh dapat membantu adinda kita ini, terutama di masa sulit seperti sekarang, agar ia tetap bisa melanjutkan kuliah di Teheran,” pungkas Azwir.

Bagikan
Sumber: dialeksis.com

Berita Terkini

Indeks