ACEH — Pelatih asal Spanyol itu tak segan membongkar rahasia di balik keberhasilan timnya finis di zona Liga Champions. Selain kejelian dalam membaca pertandingan, Fabregas mengaku menggunakan metode non-konvensional untuk membangkitkan mentalitas para pemain mudanya.
Video Pembalap Jadi Pemantik Semangat di Momen Kritis
Fabregas mengakui Como sempat terpuruk setelah menelan dua kekalahan beruntun dan hasil imbang lawan Udinese. Namun, alih-alih berfokus pada taktik, ia memutar sebuah video motivasi yang unik.
"Saya menunjukkan video tentang pembalap sepeda yang berada di posisi keenam, lalu mengayuh lebih cepat di sprint terakhir dan memenangkan balapan," ujar Fabregas dikutip dari Football Italia. "Itulah yang kami lakukan musim ini."
Mahakarya Skuad Muda: 15 Pemain Berusia 23 Tahun
Kemenangan 4-1 atas Cremonese menjadi bukti nyata kebangkitan Como. Fabregas menyebut pencapaian ini sebagai mahakarya karena skuadnya dipenuhi pemain belia.
"Tim ini memiliki 15 pemain yang semuanya berusia 23 tahun. Mereka mau mendengar, selalu ingin berbuat lebih, dan meningkatkan standar di waktu yang tepat," jelas eks kapten Arsenal tersebut.
Firasat Sebelum Laga Kontra Parma
Fabregas juga mengungkapkan instingnya yang tajam sehari sebelum laga melawan Parma. Ia merasa yakin dengan meraih dua kemenangan beruntun, Como akan mengunci tiket ke Eropa.
"Sepanjang hidup saya, bahkan ketika melakukan pergantian pemain, saya selalu punya perasaan terhadap sesuatu," kata mantan gelandang Barcelona itu.
Pujian untuk Pemain, Bukan Diri Sendiri
Meski banjir pujian, Fabregas menolak disebut sebagai aktor tunggal kesuksesan Como. Ia justru memberikan hormat kepada anak asuhnya yang berjuang di lapangan.
"Saya hanya bisa memberi hormat kepada para pemain. Kami para pelatih hanya mencoba memberi dorongan, pilihan, dan memberi tahu di mana kekurangannya. Tetapi merekalah yang melakukan semuanya di lapangan," tutupnya.
Fabregas menambahkan, "Saya sangat bahagia untuk warga Como, mereka pantas mendapatkan kegembiraan ini."