BIREUEN — Harapan warga Gampong Pante Paku di pesisir Selat Malaka itu kini tertuju pada pemerintah daerah. Mereka mendesak adanya intervensi perbaikan infrastruktur yang hancur akibat banjir dan abrasi pantai, yang hingga kini belum tersentuh penanganan.
Tambak Rusak, Sawah Kering, Nelayan Tak Melaut
Murhaban (51), mantan Keuchik Pante Paku, mengatakan kondisi ekonomi warga sangat memprihatinkan. Ia menyebutkan tambak ikan telah rusak, sawah tidak mendapat pasokan air, dan nelayan sudah tiga bulan tidak bisa melaut karena gelombang besar.
“Sudah tidak tahu bilang apalagi pak, kondisi ekonomi kami di sini pasca banjir sangat menurun,” ujar Murhaban kepada wartawan, Minggu (7/6) pagi di lokasi objek wisata Pantai Pante Paku yang kini sepi pengunjung.
Wisata Sepi, Warga Andalkan Jual Kelapa
Sebelum banjir, objek wisata pantai setempat ramai dikunjungi wisatawan lokal. Kini, pendapatan dari sektor pariwisata ikut anjlok. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Murhaban mengaku hanya mengandalkan hasil penjualan buah kelapa dari kebunnya.
“Untuk memenuhi kebutuhan hari-hari ada buah kelapa di kebun itu saya jual,” kisahnya.
Tanggul Pemecah Ombak Sepanjang 1 Km Diharapkan
Warga berharap pemerintah membangun tanggul pemecah ombak sepanjang lebih dari 1 kilometer, membentang dari objek wisata Pantai Jangka hingga Kuala Pawon Jangka. Infrastruktur ini dinilai krusial untuk melindungi tepi pantai, tambak, dan rumah warga dari gelombang pasang laut yang rutin terjadi setiap tahun.
“Kami harap pemerintah hadir ke gampong kami dan memperbaiki ragam infrastruktur yang rusak, serta mencegah kerusakan tepi pantai akibat gelombang pasang purnama,” pungkas Murhaban.