LHOKSEUMAWE — Kepala Pelaksana BPBA Bahron Bakti, ST, MT menyebutkan Kota Lhokseumawe menjadi wilayah dengan frekuensi karhutla tertinggi, yakni lima kejadian. Disusul Kabupaten Aceh Barat dengan empat kejadian dan Aceh Besar tiga kejadian.
Nagan Raya Terluas Terbakar, Capai 95 Hektare
Meski jumlah kejadian terbanyak di Lhokseumawe, luasan lahan terbakar terbesar justru tercatat di Kabupaten Nagan Raya. Wilayah itu kehilangan sekitar 95 hektare lahan akibat api dalam satu kejadian.
Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah masing-masing mencatat dua kejadian. Sementara Aceh Singkil, Nagan Raya, Aceh Jaya, dan Kota Langsa masing-masing satu kejadian.
Mengapa Karhutla di Aceh Meningkat?
BPBA menilai ancaman karhutla masih tinggi seiring meningkatnya suhu udara dan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Aceh. Kondisi ini berpotensi memunculkan titik api, terutama di lahan gambut, semak belukar, dan kawasan rawan kekeringan.
Bahron Bakti menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif. "Partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar Aceh tetap hijau, aman, dan terhindar dari bencana asap," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026).
Langkah Mitigasi dan Imbauan BPBA
BPBA terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, dan Manggala Agni untuk memperkuat patroli lapangan, sosialisasi, serta kesiapsiagaan personel dan peralatan pemadaman.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Warga diminta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran di wilayah masing-masing.
"Dengan sinergi seluruh pihak, diharapkan potensi kebakaran hutan dan lahan di Aceh dapat ditekan sehingga kerugian lingkungan, ekonomi, dan sosial dapat diminimalkan," pungkas Bahron Bakti.