Pencarian

DPKA Aceh Seleksi 55 Peserta dari 220 Pendaftar untuk Bimtek Penulisan Esai Kuliner dan Wisata

Kamis, 18 Juni 2026 • 19:34:31 WIB
DPKA Aceh Seleksi 55 Peserta dari 220 Pendaftar untuk Bimtek Penulisan Esai Kuliner dan Wisata
Peserta terpilih mengikuti bimtek penulisan esai kuliner dan wisata di Banda Aceh.

BANDA ACEH — Antusiasme masyarakat terhadap program literasi berbasis budaya lokal di Aceh terbilang tinggi. DPKA mencatat, dari 220 pendaftar yang mengirimkan karya tulis, hanya 55 orang yang dinyatakan lolos seleksi dan berhak mengikuti bimbingan teknis (bimtek) penulisan esai yang digelar di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).

Kegiatan ini merupakan kerja sama DPKA dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dan didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) Perpusnas Tahun 2026. Peserta yang terpilih berasal dari kalangan masyarakat umum, akademisi, mahasiswa, hingga pegiat literasi.

Mengapa Tema Kuliner dan Wisata Dipilih?

Kepala Bidang Pembinaan, Pengembangan dan Pengawasan DPKA, Mountie Syurga, mengatakan bahwa budaya lokal Aceh menghadapi dua tantangan besar di tengah derasnya arus informasi digital: dilupakan atau disalahpahami. “Padahal budaya adalah jati diri yang harus kita lestarikan,” ujarnya saat membuka acara.

Ia menambahkan, Aceh memiliki kekayaan budaya yang melimpah, mulai dari bahasa daerah, cerita rakyat, upacara adat, hingga kuliner dan destinasi wisata. Semua aspek ini perlu didokumentasikan dan dipromosikan agar tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga hadir di dunia maya.

Peserta Didorong Jadi Kurator Konten Budaya

Bimtek ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Herman RN, S.Pd., M.Pd., Yarmen Dinamika, dan Prof. Sulaiman Tripa, S.H., M.H. Mereka membekali peserta dengan teknik menulis esai yang menarik, akurat, dan relevan untuk platform digital.

“Tujuannya agar budaya kita tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga hadir di dunia nyata dan dunia maya, baik melalui blog, media sosial maupun platform digital lainnya,” kata Mountie.

Peserta diharapkan tidak sekadar menjadi penulis, melainkan juga mampu berperan sebagai kurator dan kreator konten budaya. Mereka dituntut untuk mengemas kearifan lokal menjadi tulisan yang mampu bersaing di era digital.

Seleksi Ketat karena Keterbatasan Kuota

Tingginya minat masyarakat—terbukti dari 220 pendaftar—menjadi indikator bahwa literasi budaya di Aceh mulai bergairah. Namun, karena keterbatasan kuota, DPKA hanya bisa menampung 55 peserta terbaik.

Dalam sambutan penutupnya, Mountie berpesan agar peserta memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh. “Jadilah penulis yang terus berkarya karena penulis pasti membaca, tetapi pembaca belum tentu menjadi penulis,” pungkasnya. [nh]

Bagikan
Sumber: dialeksis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks