MEULABOH — Bencana asap kembali menyelimuti sebagian langit Aceh Barat. Selama lebih dari dua pekan, kepulan asap putih keabu-abuan terus membubung dari lahan yang mengering. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, luasan lahan yang terbakar mencapai 34,1 hektare dan tersebar di lima kecamatan: Bubon, Samatiga, Meureubo, Arongan Lambalek, dan Johan Pahlawan.
Mengapa Api Lebih Sulit Dipadamkan di Lahan Gambut?
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah, menjelaskan bahwa tantangan terbesar bukan hanya luasnya api di permukaan. "Kebakaran lahan gambut membuat bara dapat terus menyala di bawah tanah dan merambat tanpa terlihat," ujarnya.
Kondisi ini memaksa petugas untuk bekerja ekstra. Dari luar, lahan mungkin tampak padam, tetapi beberapa sentimeter di bawah permukaan, api masih hidup. Setiap langkah kaki di atas lahan gambut yang terbakar menyimpan risiko tinggi. Tanah yang tampak kokoh bisa menyembunyikan rongga panas, dan satu kesalahan pijak bisa membuat petugas terperosok ke area yang masih membara.
Akses Sulit dan Sumber Air yang Menipis
Upaya pemadaman juga dihadapkan pada medan yang berat. Banyak lokasi kebakaran hanya bisa diakses melalui jalan tanah sempit yang tidak dapat dilalui kendaraan besar. Akibatnya, petugas harus berjalan kaki sambil memanggul mesin pompa air, gulungan selang, dan jeriken bahan bakar.
Ironisnya, ketika api membutuhkan air untuk dipadamkan, sumber air justru menjadi barang langka. Parit-parit yang biasanya menjadi andalan mengering. Sumur warga mengalami penyusutan. Tim gabungan pun harus berimprovisasi dengan mencari genangan tersisa atau menggali tanah gambut agar air dapat terkumpul. Tak jarang, air yang berhasil diperoleh bercampur lumpur pekat dan berisiko merusak mesin pompa.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Bantuan dari Udara
Beruntung, perjuangan di lapangan tidak dilakukan sepihak. BPBD mendapat dukungan dari TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), petugas pemadam kebakaran, mahasiswa, hingga masyarakat setempat. Masing-masing memainkan peran penting, mulai dari pemadaman langsung hingga penyediaan informasi pergerakan api.
Ketika kemampuan pemadaman dari darat mulai menemui keterbatasan, dukungan dari udara menjadi penopang utama. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik api yang sulit dicapai. Ribuan liter air dijatuhkan langsung ke area kebakaran guna menekan kobaran api. Selain itu, BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui pesawat khusus untuk memicu hujan buatan.
Pekerjaan Rumah yang Belum Usai
Meski sebagian besar api telah padam, persoalan karhutla di Aceh Barat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sebaran titik api yang terpencar membuat upaya pemadaman menjadi jauh lebih rumit. Tim gabungan tidak bisa memusatkan kekuatan pada satu lokasi, melainkan harus membagi personel, peralatan, dan perhatian ke berbagai titik sekaligus. Di balik angka 34,1 hektare tersebut, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan manusia melawan api dan pelajaran penting mengenai hubungan kita dengan alam.