ACEH — Pergerakan rupiah pada Jumat (26/6) pagi ini menjadi yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir. Depresiasi 0,25% ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang didorong oleh data ekonomi AS yang panas dan pernyataan hawkish para pejabat Federal Reserve.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. "Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Bukan Hanya Rupiah, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Tertekan
Pelemahan rupiah pagi ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang kawasan Asia juga mengalami nasib serupa. Won Korea Selatan menjadi yang paling terpukul dengan depresiasi 0,38%, disusul dolar Singapura yang turun 0,05%, yen Jepang melemah 0,03%, dan yuan China terkoreksi tipis 0,01%.
Di sisi lain, ringgit Malaysia justru menjadi bintang dengan apresiasi 0,31%, diikuti peso Filipina yang naik 0,07%. Pergerakan bervariasi ini menunjukkan bahwa sentimen eksternal dari AS memang dominan, namun faktor fundamental domestik masing-masing negara tetap mempengaruhi daya tahan mata uangnya.
Kisaran Perdagangan Hari Ini: Rp17.900 hingga Rp18.050
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak volatil sepanjang hari ini dengan rentang perdagangan di Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 menjadi batas kritis yang patut diwaspadai. Jika tembus, bukan tidak mungkin tekanan jual terhadap rupiah akan semakin deras.
Bagi importir yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar, pelemahan ini jelas menjadi beban tambahan. Sementara bagi eksportir, kurs yang lebih lemah justru menguntungkan karena nilai penerimaan dalam rupiah menjadi lebih besar. Pelaku bisnis disarankan untuk melakukan hedging guna mengantisipasi fluktuasi yang masih tinggi.
Apa Dampaknya bagi Investor dan Masyarakat?
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah biasanya menjadi sentimen negatif karena memicu aksi jual aset berdenominasi rupiah oleh asing. Sektor yang paling rentan terdampak adalah perbankan dan properti yang memiliki utang dolar signifikan. Sementara bagi masyarakat umum, dampak langsung akan terasa pada harga barang impor seperti elektronik, bahan baku industri, dan produk konsumen lainnya yang berpotensi naik dalam waktu dekat.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati rilis data tenaga kerja AS pekan depan yang bisa menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan dolar global.