BANDA ACEH — Belasan korban letupan di kapal feri rute Banda Aceh–Sabang itu masih menjalani perawatan intensif. Illiza yang datang didampingi Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Jalaluddin dan jajaran pejabat terkait, menyambangi langsung ruang perawatan untuk memberikan dukungan moril kepada para pasien dan keluarga yang menunggu.
Daftar Korban: 14 Taruna Poltekpel dan 1 ABK
Data dari pihak rumah sakit mencatat seluruh korban mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuh. Dari 15 orang yang dirawat, 14 di antaranya merupakan mahasiswa Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, dan satu orang lainnya adalah anak buah kapal (ABK). Insiden terjadi saat kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, bukan saat berlayar menuju Sabang.
Untung Kapal Sedang Bersandar, Bukan di Tengah Laut
Illiza menilai musibah ini bisa berakibat jauh lebih fatal. “Untungnya musibah ini terjadi saat kapal bersandar di pelabuhan. Tentu situasinya akan jauh lebih berbahaya jika posisi kapal sedang berada di tengah laut,” ujarnya saat ditemui di RSUDZA. Ia juga meminta pihak rumah sakit memberikan pelayanan maksimal agar seluruh korban bisa pulih dan beraktivitas kembali.
Penyelidikan Tim Inafis dan Evaluasi SOP Pelayaran
Wali Kota meminta aparat berwenang mengungkap penyebab pasti letupan tabung tekanan hidrolik di ruang mesin kapal. Hingga kini, Tim Inafis Polresta Banda Aceh masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian. “Segala SOP juga perlu diperkuat demi mencegah kejadian serupa pada masa mendatang,” tegas Illiza.
Atas nama Pemerintah Kota Banda Aceh, Illiza menyampaikan rasa duka mendalam dan berharap keluarga korban diberikan ketabahan. Ia meminta seluruh operator kapal mengevaluasi standar operasional prosedur keselamatan pelayaran secara menyeluruh, terutama untuk kapal yang melayani lintasan padat seperti Banda Aceh–Sabang.