ACEH TIMUR — Angka tersebut disampaikan Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh Timur, Abdurrahman, di Aceh Timur, Selasa. Jahe disebut sebagai komoditas andalan daerah yang potensial untuk terus dikembangkan.
Sentra Produksi Tersebar di Sembilan Kecamatan
Abdurrahman merinci, budi daya jahe terkonsentrasi di Kecamatan Sungai Raya, Peureulak Timur, Peureulak, Ranto Peureulak, Peunaron, Serbajadi, Peudawa, Darul Aman, dan Julok. “Daerah-daerah tersebut menjadi sentra produksi jahe yang selama ini memasok kebutuhan pasar sekaligus menjadi sumber bahan baku bagi berbagai produk olahan,” ujarnya.
Dari sembilan kecamatan itu, jahe tak hanya dipasarkan dalam bentuk segar. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Aceh Timur mulai mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, seperti minuman herbal instan.
Industri Hilir Jadi Kunci Nilai Tambah
Menurut Abdurrahman, potensi jahe di kabupaten itu tidak berhenti pada hasil panen. Peluang pengembangan industri hilir dinilai terbuka lebar. “Pengembangan komoditas jahe harus terus didorong, mulai dari budi daya hingga pengolahan hasil. Dengan begitu, nilai tambahnya dapat dinikmati langsung petani dan pelaku UMKM, sehingga berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat,” katanya.
Jahe selama ini menjadi salah satu rempah andalan Aceh Timur. Permintaan pasar terhadap rempah dan produk olahannya disebut terus meningkat.
Harapan ke Depan: Perkuat Posisi sebagai Komoditas Unggulan
Abdurrahman berharap budi daya jahe di Aceh Timur terus berkembang seiring naiknya permintaan. “Dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, jahe dapat semakin mengukuhkan posisinya sebagai komoditas unggulan yang mampu memperkuat sektor pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Data Dinas Pertanian setempat menunjukkan luas tanam jahe tahun ini mencapai 112 hektare. Angka itu menjadi basis produksi 420 ton yang dicatat hingga saat ini.