BANDA ACEH — Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri menekan angka stunting. Untuk itu, sebanyak 158 kader dari 90 gampong dilibatkan dalam sosialisasi percepatan penurunan stunting yang digelar di Hotel Hanifi, Selasa (30/6/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP., M.Si., membuka langsung kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak, melainkan ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia ke depan.
Stunting Bukan Hanya Soal Fisik, Tapi Otak dan Produktivitas
Wahyudi menjelaskan, anak yang mengalami stunting tidak hanya bertubuh pendek. Dampaknya jauh lebih luas: perkembangan otak terganggu, kemampuan belajar menurun, dan produktivitas saat dewasa ikut terhambat.
“Ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh unsur di Kota Banda Aceh,” ujarnya dalam sambutan.
Menurutnya, pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun—periode yang dikenal sebagai 1.000 hari pertama kehidupan. Pada fase kritis ini, pemenuhan gizi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta pola asuh yang baik menjadi penentu.
Kader Gampong Jadi Ujung Tombak Sosialisasi
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Banda Aceh, Nurjannah, S.KM., M.KM., mengatakan bahwa kader dari 90 gampong yang hadir diharapkan menjadi penyambung informasi ke lingkungan masing-masing.
“Kami ingin seluruh elemen masyarakat memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya mencegah stunting sejak dini, sehingga angka stunting di Kota Banda Aceh dapat terus ditekan,” kata Nurjannah.
Materi sosialisasi tidak hanya soal gizi. Narasumber yang dihadirkan mencakup dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. T. Kharrif Indra Utama, Sp.OG., dokter spesialis gizi klinik, dr. Desi, Sp.GK., serta Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi, S.Pd., M.Pd.
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci
Wahyudi menekankan bahwa program percepatan penurunan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor. Pemerintah, legislatif, TP PKK, aparatur gampong, kader Posyandu, tokoh masyarakat, hingga keluarga harus bergerak bersama.
“Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di ruang pertemuan ini, tetapi dapat disampaikan kepada masyarakat sehingga berbagai program pemerintah dapat berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata,” pungkasnya.
Melalui sosialisasi ini, Dinkes Banda Aceh berharap angka stunting di ibu kota Provinsi Aceh terus menurun. Partisipasi aktif masyarakat gampong dalam mendampingi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi kunci keberhasilan program ke depan.