BANDA ACEH — Di tengah maraknya festival, komunitas kreatif, dan penetrasi digital yang kian masif di Aceh, seorang akademisi justru melihat gejala yang lebih senyap namun fundamental. Ari J. Palawi, praktisi dan akademisi seni dari Aneuk Mukim Kayee Adang, Banda Aceh, menyebut bahwa Aceh tidak kekurangan orang berbakat, seniman, guru, atau anak muda yang ingin berkarya. Yang mulai langka, katanya, adalah hubungan yang memungkinkan pengalaman hidup berpindah dari generasi yang telah berjalan kepada mereka yang baru memulai.
Didong dan Hikayat Bukan Sekadar Pertunjukan
Ari mencontohkan berbagai tradisi seperti Didong di Gayo, Dendang Sikambang di Kepulauan Banyak, hingga seni tutur dan hikayat. Semua itu, menurut dia, bukan sekadar menghasilkan pertunjukan, melainkan cara masyarakat memindahkan pengalaman hidup. "Di dalam syair tersimpan pengetahuan. Di dalam irama tersimpan cara membaca perubahan. Di dalam perjumpaan tersimpan pendidikan karakter yang tidak pernah ditulis dalam kurikulum," tulisnya dalam sebuah artikel yang dikutip dari media lokal.
Meskipun festival masih digelar dan dokumentasi semakin banyak, Ari mempertanyakan apakah pengetahuan yang dikandung tradisi itu masih benar-benar berpindah ke generasi berikutnya. Ia menilai kebudayaan tidak selalu lenyap ketika bentuknya berubah, tetapi perlahan kehilangan daya ketika masyarakat tidak lagi memahami alasan mengapa tradisi itu pernah lahir.
Teknologi Tak Bisa Gantikan Proses Menjadi Manusia
Persoalan serupa juga mulai terlihat di dunia pendidikan dan kreativitas. Ari menyebut bahwa kecerdasan buatan kini mampu menghasilkan ilustrasi, musik, video, hingga tulisan dalam hitungan detik. Namun, yang justru semakin bernilai adalah hal yang tidak bisa diproduksi mesin: pengalaman hidup, empati, intuisi, pertimbangan moral, dan keberanian mengambil keputusan. "Teknologi dapat mempercepat proses berkarya, tetapi tidak dapat menggantikan proses menjadi manusia," ujarnya.
Pelajaran dari Sejarah Arun: Sumber Daya Bukan Jaminan
Ari juga mengingatkan pelajaran dari sejarah Arun di Aceh. Selama bertahun-tahun, kekayaan alam menghadirkan optimisme dan pertumbuhan ekonomi. Namun, waktu menunjukkan bahwa sumber daya tidak otomatis melahirkan masyarakat yang lebih siap menghadapi masa depan. "Cadangan energi dapat habis. Industri dapat berpindah. Investasi dapat berubah arah. Yang menentukan keberlanjutan sebuah daerah bukan apa yang berhasil diambil dari perut bumi, melainkan apa yang berhasil dibangun di dalam manusianya," tulisnya.
Skate Park Stage Revival: Menjawab Kebutuhan Perjumpaan
Di tengah kekhawatiran itu, Ari menyoroti inisiatif seperti Skate Park Stage (SPS) Revival dan Darud Dunia di Banda Aceh. Menurutnya, ikhtiar ini tidak lahir karena Aceh kekurangan festival, melainkan untuk menjawab persoalan mendasar: bagaimana mempertemukan kembali pengalaman, pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
SPS Revival, kata Ari, dimulai dari perjumpaan, bukan dari panggung. Perjumpaan yang memungkinkan pelajar berbicara dengan seniman, mahasiswa berdiskusi dengan akademisi, dan penggerak komunitas belajar dari pelaku usaha. Dari kebutuhan itu lahir gagasan Lingkar Wali Perjumpaan. "Istilah wali di sini tidak dimaksudkan sebagai simbol kehormatan, apalagi struktur kekuasaan. Ia lebih dekat kepada makna penjaga amanah," jelasnya.
Pertanyaan Mendasar di Tengah Geliat Investasi Baru
Ari menekankan bahwa ketika Aceh kembali menghadapi peluang besar melalui investasi dan pengembangan sumber daya, pertanyaan paling mendasar bukanlah berapa besar nilai ekonominya. "Apakah momentum ini sedang menghasilkan generasi yang lebih cakap, lebih kreatif, lebih tangguh, dan lebih siap memimpin zamannya?" tulisnya. Ia menilai ukuran keberhasilan pendidikan tidak lagi cukup diukur dari seberapa banyak informasi yang dipindahkan, melainkan apakah pendidikan masih mampu membentuk manusia yang memiliki kedalaman berpikir dan kepekaan terhadap kehidupan.