PIDIE JAYA — Lahan pertanian yang sempat lumpuh akibat banjir bandang akhir tahun lalu kini mulai menunjukkan produktivitasnya. BI Aceh bersama Pemkab Pidie Jaya dan USK membangun demplot percontohan seluas lima hektare untuk budidaya bawang merah dengan menerapkan praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Agus Chusaini mengatakan, program ini dirancang untuk mendorong petani kembali berproduksi dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga pascabencana. “Program ini tidak hanya fokus pada pemulihan lahan terdampak bencana, tetapi juga mendorong masyarakat untuk kembali berproduksi, memperoleh pendapatan, dan meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa.
Rotasi Tanaman dan Benih Unggul Jadi Kunci
Alih-alih menunggu lahan pulih total untuk ditanami padi, BI Aceh memilih bawang merah sebagai komoditas rotasi yang dinilai memiliki prospek ekonomi lebih cepat. Metode GAP yang diterapkan meliputi penggunaan benih varietas unggul, mulsa plastik, hingga pengurai organik. Demplot ini tersebar di beberapa titik dengan tingkat kerusakan lahan yang berbeda—ringan, sedang, dan berat—agar pola pemulihannya bisa direplikasi di daerah terdampak lainnya.
Selain bawang merah, BI Aceh juga mengembangkan komoditas cabai dan jagung di lokasi yang sama. Tujuannya untuk mengidentifikasi tanaman yang paling adaptif terhadap kondisi lahan pascabanjir.
Menjaga Inflasi Lewat Produksi Lokal
Peningkatan produksi bawang merah di Pidie Jaya tidak hanya soal pemulihan lahan. Agus menegaskan, langkah ini juga strategis untuk menekan inflasi di Aceh, mengingat bawang merah merupakan salah satu komoditas penyumbang kenaikan harga. “Melalui pendampingan dan praktik GAP yang berkelanjutan, diharapkan lahan yang terendam banjir tidak hanya menghasilkan panen bawang, tetapi juga membangun model pemulihan ekonomi masyarakat berbasis pertanian,” ujarnya.
BI tidak berhenti pada masa tanam. Ke depan, bantuan akan diperluas ke tahap pascapanen, termasuk pelatihan pengolahan hasil pertanian dan akses pemasaran melalui agregator. “Kami juga akan membantu pada tahap pasca panen dan membuka akses pemasaran melalui agregator sehingga hasil panen petani memiliki nilai ekonomi yang lebih baik,” kata Agus.
Komitmen Multi-pihak untuk Pemulihan Berkelanjutan
Kesuksesan panen perdana ini tidak lepas dari pendampingan tim Fakultas Pertanian USK. Dalam kesempatan yang sama, BI Aceh, Pemkab Pidie Jaya, USK, dan Satgas Rekonstruksi menandatangani komitmen penguatan klaster pertanian. Sinergi ini diharapkan menjaga stabilitas inflasi sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi pascabencana secara lebih terstruktur.
Bantuan sarana dan prasarana juga diserahkan kepada kelompok tani dan kelompok garam yang terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, menandai perluasan jangkauan program pemulihan dari BI Aceh.