BANDA ACEH — Kebijakan penambahan jam operasional ini mulai diterapkan di terminal-terminal utama Pertamina di Aceh. Tak hanya hari kerja, layanan juga diperluas hingga hari Minggu.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyatakan optimalisasi operasional terminal menjadi tulang punggung distribusi BBM di provinsi ujung barat Indonesia itu.
"Kami terus mengoptimalkan operasional terminal sebagai tulang punggung distribusi BBM di Aceh. Berbagai langkah percepatan dilakukan agar proses penyaluran menjadi lebih efektif," ujar Fahrougi, Senin (21/7/2026).
Ritase Mobil Tangki Dinaikkan 65 Persen
Untuk mendukung percepatan distribusi, Pertamina meningkatkan frekuensi pengoperasian mobil tangki hingga sekitar 65 persen. Langkah ini bertujuan mempercepat penyaluran BBM ke lembaga penyalur di seluruh Aceh.
Selain menambah jam operasional dan ritase, perusahaan juga menerapkan skema distribusi yang lebih fleksibel melalui alih suplai antarwilayah.
Alih Suplai dari Lhokseumawe ke Langsa dan Aceh Timur
Sejak 12 Juli 2026, Pertamina mengalihkan suplai dari Integrated Terminal Lhokseumawe ke wilayah Langsa dan Aceh Timur. Rata-rata volume pengiriman dari skema ini mencapai 48.000 liter BBM per hari.
Skema alih suplai estafet juga diterapkan bersama Fuel Terminal Krueng Raya untuk mendukung distribusi ke Bireuen dan Pidie. Dengan pola ini, BBM bisa dikirim lebih cepat ke daerah yang sebelumnya kerap mengalami keterlambatan pasokan.
Pemantauan Stok dan Imbauan ke Masyarakat
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus memantau kondisi stok dan distribusi BBM di seluruh Aceh. Koordinasi antar terminal diperkuat agar distribusi lebih responsif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan karena Pertamina berkomitmen untuk terus menjaga keandalan pasokan dan pelayanan energi di Aceh," tambah Fahrougi.