Pencarian

Sekum HMI Badko Aceh Gagas Konsep 'Meuseuraya' untuk Redam Polarisasi Internal, 5 Agenda Pembaruan Ditawarkan

Minggu, 26 Juli 2026 • 19:46:31 WIB
Sekum HMI Badko Aceh Gagas Konsep 'Meuseuraya' untuk Redam Polarisasi Internal, 5 Agenda Pembaruan Ditawarkan
Sekum HMI Badko Aceh, Muhammad Fadli, memperkenalkan konsep 'HMI Meuseuraya' sebagai pendekatan organisasi yang mengedepankan kolaborasi dan pengabdian.

BANDA ACEH — Muhammad Fadli, Sekretaris Umum HMI Badko Aceh, menggagas paradigma 'HMI Meuseuraya' sebagai pendekatan organisasi yang menempatkan kolaborasi di atas polarisasi dan pengabdian di atas ambisi kekuasaan. Gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap dinamika internal HMI yang dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak tersita oleh perbedaan pilihan politik, rivalitas antarkelompok, dan menurunnya budaya intelektual.

Apa Itu 'Meuseuraya' dan Mengapa Relevan bagi HMI?

Fadli menjelaskan bahwa Meuseuraya adalah falsafah gotong royong khas Aceh yang sudah mengakar selama berabad-abad. Nilai ini, menurutnya, dapat diangkat menjadi paradigma nasional bagi HMI agar organisasi tidak lagi terjebak dalam konflik internal yang berkepanjangan. "Perbedaan pandangan tetap dijaga sebagai tradisi intelektual, tetapi diarahkan untuk melahirkan sintesis pemikiran, bukan permusuhan," tulis Fadli dalam artikel yang beredar baru-baru ini.

Ia merujuk pada pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang mengingatkan bahwa kemajuan umat tidak lahir dari sikap eksklusif, melainkan keterbukaan berpikir dan keberanian melakukan pembaruan. Semangat yang sama, kata Fadli, harus hidup di tubuh HMI: membangun organisasi yang inklusif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Lima Agenda Pembaruan: dari Tradisi Intelektual hingga Transformasi Digital

Untuk mewujudkan HMI Meuseuraya secara nasional, Fadli menawarkan lima agenda pembaruan. Pertama, menghidupkan kembali tradisi intelektual melalui riset, publikasi ilmiah, diskusi kebangsaan, dan budaya membaca sebagai identitas utama kader. Kedua, melakukan transformasi digital organisasi agar administrasi dan kaderisasi berjalan lebih modern dan efisien.

Ketiga, mengarahkan agenda gerakan intelektual HMI pada isu-isu strategis seperti kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, ketahanan pangan, perubahan iklim, energi baru terbarukan, ekonomi syariah, hingga pemberdayaan UMKM. Keempat, membangun mekanisme pengelolaan perbedaan internal yang sehat, bukan meniadakan perbedaan. Kelima, memperkuat kaderisasi yang berorientasi pada karakter, integritas, dan kemampuan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Fadli mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan HMI tidak boleh berhenti pada banyaknya kader yang menduduki jabatan publik, melainkan sejauh mana organisasi mampu menghadirkan solusi atas persoalan bangsa. Ia mengutip pendapat Akbar Tandjung yang menyebut kader yang baik bukan hanya piawai memenangkan forum, tetapi mampu memenangkan kepercayaan publik melalui karya nyata.

Budaya Organisasi sebagai Fondasi Utama

Dalam paparannya, Fadli juga mengingatkan teori Peter Drucker bahwa budaya organisasi lebih menentukan masa depan daripada strategi. Ia menambahkan pandangan Edgar H. Schein bahwa nilai, kebiasaan, dan cara berpikir bersama jauh lebih penting daripada struktur formal. "HMI harus kembali menjadi laboratorium intelektual, bukan sekadar arena kompetisi politik internal," tegas Fadli.

Gagasan HMI Meuseuraya ini diharapkan bisa menjadi jalan baru membangun persatuan di tingkat nasional. Fadli optimistis bahwa semangat gotong royong khas Aceh mampu menginspirasi kader HMI di seluruh Indonesia untuk lebih produktif dan relevan menghadapi tantangan bonus demografi 2045.

Bagikan
Sumber: portalsatu.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks