KUTACANE — Rangkaian Pasar Tani Aceh Road Show dan Festival Kakao di Aceh Tenggara membukukan transaksi hingga Rp121 juta hanya dalam sehari. Event yang berlangsung Minggu (9/8/2026) ini menjadi ajang bagi 23 pelaku UMKM untuk menjajakan produk unggulan mereka secara langsung kepada konsumen.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, menyebut program ini dirancang untuk memangkas rantai distribusi yang selama ini membuat harga di tingkat petani rendah. Dengan bertemu langsung dengan pembeli, pendapatan petani diharapkan naik signifikan.
"Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga stabilitas harga pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi petani dan UMKM lokal melalui promosi produk unggulan daerah," kata Azanuddin.
Kolaborasi dengan Bulog dan Sektor ESDM
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan produk pertanian segar. Pemerintah Aceh turut menggandeng mitra strategis, termasuk sektor ESDM yang memasok LPG 3 kilogram dan Perum Bulog yang menyediakan beras serta minyak goreng bagi masyarakat.
Sejak pertama kali digelar pada 2022, Pasar Tani Road Show telah menjangkau berbagai kabupaten/kota di Aceh. Hingga 2025, total akumulasi transaksi program ini mencapai Rp786,09 juta.
Lima Daerah Jadi Lokasi Pasar Tani 2026
Memasuki 2026, agenda ini dijadwalkan berputar di lima daerah. Selain Aceh Tenggara, Kota Lhokseumawe, Aceh Tengah, Aceh Barat, dan Bireuen juga masuk dalam daftar tuan rumah.
Azanuddin berharap perluasan jangkauan ini mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk pertanian lokal. Ia juga mengajak penyuluh pertanian dan pelaku UMKM untuk memperkuat kolaborasi dalam mempromosikan hasil bumi daerah.
Kakao Aceh Tenggara Masuk Top 50 Dunia
Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, menegaskan festival ini bukan sekadar seremonial. Ia ingin momentum tersebut dipakai untuk memperkenalkan potensi pertanian daerah sekaligus memperluas pasar bagi para petani.
Kakao menjadi perhatian utama dalam acara ini. Komoditas tersebut merupakan sumber penghidupan masyarakat dan dinilai punya peluang besar mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
"Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara terus memperkuat pengembangan kakao melalui pembangunan kebun induk dan kebun entres sebagai upaya menyediakan bahan tanam berkualitas bagi petani," ujarnya.
Pengakuan internasional pun telah diraih. Kakao asal Aceh Tenggara masuk dalam Top 50 Cacao of Excellence 2025, sebuah pencapaian yang menurut Salim harus dimanfaatkan untuk mendorong hilirisasi.
Target: Naik Kelas dari Biji Mentah ke Produk Olahan
Salim menegaskan kakao daerahnya tidak boleh selamanya dijual dalam bentuk biji mentah. Ia mendorong lahirnya produk olahan seperti cokelat batang, makanan, hingga minuman berbahan kakao yang mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.
"Petani harus mendapatkan harga yang layak, produksi terus meningkat, kualitas semakin baik, pasar semakin luas, dan pada akhirnya kesejahteraan petani juga harus semakin meningkat," tutupnya.
Pemerintah kabupaten berkomitmen membangun ekosistem kakao dari hulu ke hilir. Mulai dari penyediaan bibit unggul, budidaya, pengolahan, pengemasan, pemasaran, hingga membuka jalur ekspor.