ACEH — Keputusan Antam untuk menahan harga jual di level saat ini menjadi sinyal menarik bagi investor. Sebab, momentum ini terjadi hanya beberapa hari setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang dirilis Jumat pekan lalu jauh di bawah ekspektasi pasar, memicu reli harga emas global.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, unit bisnis Antam, harga emas berukuran 1 gram dibanderol Rp 2.690.000. Adapun harga buyback dipatok di Rp 2.511.000. Selisih antara harga jual dan buyback ini merupakan margin yang menjadi pertimbangan investor saat ingin mengambil untung cepat.
Rincian Harga dan Ukuran yang Tersedia
Antam menyediakan emas batangan dalam berbagai pecahan, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram. Untuk ukuran besar di atas 250 gram, pembelian dilakukan melalui skema pre-order atau inden.
- 0,5 gram: Rp 1.395.000
- 1 gram: Rp 2.690.000
- 5 gram: Rp 13.265.000
- 10 gram: Rp 26.450.000
- 100 gram: Rp 263.360.000
- 1.000 gram: Rp 2.690.600.000 (pre-order)
Perlu dicatat, harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar. Sebelumnya, emas batangan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026, yakni menembus Rp 3.168.000 per gram dengan buyback di level Rp 2.989.000.
Sentimen Global yang Menggerakkan Pasar
Reli harga emas dunia pekan lalu dipicu oleh rilis data non-farm payrolls AS yang mengejutkan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan terjadi pengurangan 23.000 lapangan kerja pada Juli, kontras dengan perkiraan ekonom yang memperhitungkan kenaikan 80.000 pekerjaan.
Data yang lemah ini meredupkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Direktur High Ridge Futures, David Meger, menilai data tersebut menciptakan skenario di mana The Fed kemungkinan kecil akan menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
"Penurunan harga energi dan kemungkinan kecilnya kenaikan suku bunga The Fed sama-sama mengisyaratkan pelemahan dolar dan penguatan harga emas," ujar Meger.
Akibatnya, harga emas spot melonjak 2,3% menjadi US$ 4.336,11 per ons pada Jumat (7/8), setelah sempat naik lebih dari 3% ke level tertinggi sejak 17 Juni. Secara mingguan, emas mencatat kenaikan terbesar sejak 19 Januari dengan akumulasi lebih dari 7%.
Pasar kontrak berjangka suku bunga kini memperhitungkan peluang 43,9% bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan pada September, turun signifikan dari 57% sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis. Sebaliknya, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga stabil bulan depan naik menjadi 60,4%.
Bagi investor domestik, kombinasi harga emas global yang menguat namun harga Antam yang stagnan bisa menjadi pertimbangan. Keputusan untuk membeli atau menjual kembali logam mulia sebaiknya mempertimbangkan selisih harga jual dan buyback yang mencapai sekitar 6,6% dari nilai emas.