BANDA ACEH — Perdamaian Aceh yang telah berjalan 21 tahun sejak penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 tidak boleh dimaknai sekadar sebagai kenangan sejarah. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, menegaskan bahwa generasi muda, khususnya santri, memiliki tanggung jawab besar untuk merawat dan meneruskan nilai-nilai damai yang telah diperjuangkan dengan harga sangat mahal.
Menurut Muhsin, ulama dan dayah memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan perdamaian. Ia menilai nasihat dan pandangan ulama merupakan kekuatan moral yang mampu mengarahkan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog dan musyawarah.
"Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan nasihat, pencerahan dan mengarahkan masyarakat kepada kemaslahatan umat. Peran ini perlu terus diperkuat dalam menjaga perdamaian Aceh," kata Muhsin dalam keterangannya, Jumat (15/8/2026).
Perdamaian Bukan Sekadar Heningnya Senjata
Dua dekade lebih pasca-konflik, wajah Aceh telah berubah drastis. Masyarakat dapat beraktivitas dengan aman, sekolah berjalan tanpa bayang-bayang ketakutan, dan roda ekonomi tumbuh. Namun, Muhsin mengingatkan bahwa damai tidak boleh diartikan semata-mata sebagai tidak adanya suara tembakan.
Perdamaian yang sesungguhnya harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari: rasa aman, pendidikan yang layak, lapangan pekerjaan, pelayanan publik yang baik, hingga keadilan dan kesempatan ekonomi yang setara. Karena itu, peringatan 15 Agustus seharusnya menjadi ruang refleksi jujur, bukan sekadar seremoni tahunan yang selesai setelah pidato dan doa bersama.
Generasi Muda Hadapi Tantangan Berbeda
Generasi yang lahir setelah konflik tidak pernah merasakan langsung suasana mencekam masa perang. Bagi mereka, konflik hanya hadir melalui buku, dokumentasi, atau cerita orang tua. Justru di sinilah tantangan terbesar berada—generasi muda kini hidup di tengah arus digital yang deras, di mana informasi, propaganda, hingga narasi kebencian dapat masuk dalam hitungan detik.
Untuk itu, merawat perdamaian tidak cukup dengan menceritakan kembali sejarah konflik. Generasi muda perlu dibekali kemampuan memahami perbedaan, menghargai keberagaman, membangun daya kritis, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. Nilai-nilai tersebut, lanjut Muhsin, sebenarnya telah lama hidup dan diajarkan dalam pendidikan dayah di seluruh Aceh.
Pendidikan dan Literasi Jadi Kunci
Upaya mewariskan nilai perdamaian juga dilakukan melalui jalur pendidikan formal. Dinas Pendidikan Aceh menggelar Gebyar Kreativitas Pelajar Aceh 2026 dengan lomba video reels dan puisi bertema perdamaian. Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyatakan bahwa perdamaian telah memberi ruang bagi anak-anak Aceh untuk belajar dengan tenang dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Badan Reintegrasi Aceh (BRA) turut mendorong keterlibatan generasi muda melalui Kompetisi Karya Tulis Ilmiah dan Video Kreatif bertema "Merawat Perdamaian Aceh Melalui Inovasi, Literasi, dan Kolaborasi Generasi Muda". Pesan dari berbagai kegiatan ini sederhana: perdamaian tidak cukup dikenang, tetapi harus dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.