ACEH — Jakarta - Hangtuah Jakarta Basketball memulai babak baru dengan menunjuk Yohanes Kristian sebagai pelatih interim. Keputusan ini diambil di tengah proses restrukturisasi tim yang berlangsung menyeluruh, tidak hanya di jajaran pelatih tetapi juga komposisi pemain. Kristian, yang memiliki pengalaman menangani klub IBL sejak 2020, akan langsung mengawal persiapan tim untuk dua agenda kompetisi ke depan.
Manajemen Hangtuah menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari pembangunan fondasi jangka panjang. "Kami sedang membangun kembali Hangtuah secara menyeluruh. Bukan hanya mengenai siapa pemain atau pelatihnya tetapi juga bagaimana kami membangun organisasi, kultur, serta fondasi bisnis klub yang lebih kuat dan sustainable untuk jangka panjang," ujar Managing Director Hangtuah Basketball, Kurniawan Santoso, dalam rilis yang diterima detikSport, Selasa (18/8).
Coach Bombom dan Rencana Menaikkan Jam Terbang Pemain Muda
Kristian bukanlah sosok asing bagi para pendukung Hangtuah. Sebelumnya, ia pernah menjadi asisten pelatih saat tim dinakhodai Andika Supriadi Saputra di IBL 2024. Bahkan, pria yang sempat menukangi Louvre Surabaya dan Dewa United itu pernah dipercaya sebagai interim head coach menggantikan Coach Bedu yang diberhentikan di pertengahan musim. Kini, ia kembali dengan misi yang lebih besar.
"Hal baru yang saya tawarkan adalah menaikkan jam terbang pemain-pemain muda yang sudah ada di dalam tim ini. Kami juga akan merekrut sejumlah pemain muda berpengalaman untuk menjadi fondasi utama tim Hangtuah," papar Kristian. Ia akan dibantu oleh Moosa Permadi Hantijono dan Hendrikus Andi Anggriyanto di kursi kepelatihan.
Belajar dari Perth Wildcats, Klub Tersukses di Australia
Langkah pertama yang diambil Kristian bersama tim adalah melakukan lawatan ke Australia. Hangtuah akan mengirim delegasi yang berisi Kristian, Moosa, Hendrikus, dan Direktur Operasional Danzel Hartono ke markas Perth Wildcats pada akhir Agustus. Klub tersebut merupakan pemegang rekor 10 gelar juara National Basketball League (NBL) Australia.
"Lawatan ke markas Perth Wildcats kali ini menjadi bagian dari proses benchmarking terhadap standar pengelolaan klub basket profesional di level elite, khususnya terkait metodologi latihan, sport science, player development, hingga operasional sehari-hari," jelas Kurniawan Santoso. Program intensif selama sepekan ini diharapkan bisa menghadirkan standar baru yang bisa diadaptasi ke dalam iklim basket Indonesia.
Training Camp di Bandung Jadi Momentum Pembentukan Tim
Setelah pulang dari Australia, Hangtuah akan langsung menggelar training camp (TC) di Bandung pada awal September. TC ini menjadi momentum penting bagi Coach Bombom untuk melakukan evaluasi dan membentuk kerangka utama tim. "Coach Bombom akan memimpin fase persiapan tim dari sisi teknis permainan," tambah Santoso.
Kurniawan Santoso berharap para pendukung setia FigHTers tetap bersabar dan mendukung proses transisi ini. Dengan kombinasi program benchmarking internasional dan TC lokal, Hangtuah bertekad tampil kompetitif di IBL All Indonesian 2026 yang dijadwalkan bergulir pada Oktober mendatang.