TAKENGON — Lahan sawah yang sempat tidak bisa diairi akibat bencana alam kini berangsur pulih. Dari total 1.615 hektare sawah yang mengalami kerusakan ringan, sekitar 90 persen atau 1.496 hektare telah selesai direhabilitasi dan ditargetkan siap ditanami awal September 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Nasrun Liwanza, menyebutkan percepatan ini dilakukan bersamaan dengan pemulihan jaringan irigasi tersier. Penanganan tersebut didukung bantuan Kementerian Pertanian senilai Rp6,8 miliar agar pasokan air kembali menjangkau lahan petani.
Fokus Pemulihan Jaringan Irigasi Tersier
"Untuk Aceh Tengah, luas sawah yang mengalami kerusakan ringan mencapai 1.615 hektare. Saat ini, 1.496 hektare sudah kami kerjakan. Kerusakan ringan ini dominan berkaitan dengan jaringan irigasi tersier," kata Nasrun saat meninjau lokasi rehabilitasi bersama Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Selasa (18/8/2026).
Kondisi pascabencana membuat sebagian besar sawah tidak dapat diairi. Akibatnya, petani tidak bisa mengolah lahannya dan pendapatan mereka terganggu. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi mengancam ketersediaan pangan daerah.
"Pada awal pascabencana, sawah kita tidak bisa diairi akibat kondisi alam. Oleh karena itu, Bupati Aceh Tengah merekomendasikan agar kegiatan ini dipercepat sehingga masyarakat dapat kembali bersawah dan menghasilkan pangan sendiri," ujar Nasrun.
754 Hektare Sawah Rusak Sedang Masuk Tahap Survei
Setelah menuntaskan kerusakan ringan, pemerintah daerah mulai menyiapkan rehabilitasi untuk 754 hektare sawah dengan tingkat kerusakan sedang. Lahan tersebut saat ini memasuki tahap survei, investigasi, dan desain (SID).
"Dalam minggu depan akan dilakukan SID untuk rehabilitasi sawah dengan tingkat kerusakan sedang seluas 754 hektare," kata Nasrun.
Realisasi Bantuan Pertanian Aceh Baru 49 Persen
Di tingkat provinsi, realisasi kegiatan bantuan pertanian tercatat sekitar Rp253,5 miliar atau 49,2 persen dari total pagu Rp515,2 miliar. Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Aceh, Firdaus, mendorong kabupaten dan kota segera menyelesaikan kendala administrasi agar anggaran yang sudah tersalur bisa direalisasikan di lapangan.
"Realisasi kegiatan kita baru sekitar 49 persen. Kami mengharapkan kabupaten dan kota segera menyelesaikan persoalan yang menyebabkan keterlambatan proses administrasi karena anggaran ini sudah berada di kabupaten," jelas Firdaus.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian yang dihimpun Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, luas sawah terdampak bencana di seluruh Aceh mencapai 57.171 hektare. Kerusakan tersebut terdiri dari beberapa kategori, mulai dari ringan, sedang, berat, hingga lahan yang hilang akibat terjangan arus.