PIDIE JAYA — Bunyi ketukan alat pemecah melinjo mengisi salah satu hunian sementara (huntara) di Kompleks Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya. Di sana, Muliana (46) duduk memecah melinjo satu per satu untuk diolah menjadi emping. Pekerjaan yang tampak sepele ini menjadi sumber tambahan uang belanja keluarganya di sela menjaga kios kelontong dan mengurus rumah.
“Kalau saya mengetok melinjo, hasilnya bisa membantu membeli kebutuhan seperti cabai,” kata Muliana, Sabtu (20/7/2026).
Penghasilan suaminya, Muzakar, yang bekerja sebagai penarik becak dinilai kerap tidak cukup untuk kebutuhan lima anak mereka. Dari memecah melinjo, Muliana mendapat bayaran sekitar Rp22 ribu untuk setiap bambu melinjo. Dalam sehari, ia mampu mengerjakan sekitar dua setengah bambu, bergantung pada waktu yang terbagi antara mengetok melinjo, menjaga kios, dan mengurus rumah.
Alat Kerja Hilang, Bantuan Modal Belum Pernah Diterima
Rumah Muliana tidak hancur diterjang banjir, tetapi lumpur dan kayu besar memenuhi kediamannya. Kini ia tinggal di huntara bersama suami dan anak-anaknya. Bantuan pemerintah yang sebelumnya diterima, seperti beras 20 kilogram, juga sudah berhenti. Untuk modal usaha maupun peralatan kerja, ia mengaku belum pernah menerima bantuan.
Alat membuat emping yang sebelumnya dimiliki keluarga ikut hanyut terbawa banjir. Alat untuk mengetok melinjo yang digunakan kini merupakan pinjaman dari orang lain. Meski begitu, pesanan emping tetap berdatangan. “Penghasilan suami dan penghasilan dari saya bantu-bantu ini kami cukup-cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Anak saya lima, jadi memang harus pintar-pintar mengatur,” ujarnya.
Kisah kehilangan alat kerja juga dialami Nurbaiti atau Kak Bet (43) di Gampong Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua. Selama hampir 20 tahun, bordir menjadi keterampilan sekaligus sumber penghasilannya. Setelah suaminya meninggal pada 2024, usaha itu menjadi penopang utama kebutuhan dirinya dan dua anaknya yang berusia 15 dan 12 tahun.
Memulai Usaha dari Nol di Teras Rumah
Kehilangan alat kerja memaksa perempuan lain mencari cara berbeda untuk mempertahankan penghasilan. Takdirini atau Rini (49) memilih memulai kembali usaha dari teras rumahnya. Sebelum bencana, ia mengelola kantin SDIT An-Nur dan menerima pesanan makanan. Setelah banjir merendam rumah hingga sekitar dua meter, ia membuka warung kecil bernama Cinderella.
Warung yang baru berjalan sekitar dua pekan itu menjual mi instan, minyak goreng, sabun, telur, air mineral, dan kebutuhan sehari-hari. Modal berasal dari pinjaman kecil dan bantuan anak-anaknya. Keuntungan penjualan kembali digunakan untuk menambah stok. “Saya ingin tahu cara mengatur keuangan yang benar, supaya usaha ini bisa tumbuh dan terus bertahan,” katanya.
Jurnalis Turun ke Lapangan, Jembatani Kebutuhan Penyintas
Kondisi yang dialami para perempuan pascabanjir ini menjadi perhatian peserta program Sustainability Journalism Fellowship bertajuk “Journalist as Changemakers: Driving Sustainability Through Stories and Action”. Program yang didukung CIMB Niaga dan Institute of Indonesia Journalism (IIJ) ini mempertemukan 18 perempuan pelaku UMKM lewat sharing session bersama Rumoh UMKM Pidie Jaya.
Dalam sesi itu, para peserta diajak mengisi asesmen Pohon Harapan, mendapat sosialisasi legalitas usaha, hingga belajar praktik promosi digital sederhana lewat foto produk dan konten di ponsel masing-masing. Dari sesi mengisi Pohon Harapan, jawaban yang muncul ternyata hampir serupa dengan hasil wawancara sebelumnya. Sebagian peserta bahkan baru tahu soal pentingnya legalitas usaha lewat pertemuan ini.
Rumoh UMKM menyatakan siap mendampingi. Setelah kegiatan usai, lahir jejaring antar-pelaku UMKM lewat grup WhatsApp sebagai ruang kecil untuk saling berbagi informasi dan bersilaturahmi. Kebutuhan yang disuarakan tetap sama: pendampingan usaha, promosi digital, legalitas, akses pasar, dan permodalan.
Delapan bulan setelah banjir, sebagian besar pelaku UMKM yang ditemui mengaku usaha mereka sudah kembali berjalan, tapi belum sepenuhnya pulih. Modal dan peralatan masih terbatas, sebagian belum terbiasa mencatat keuangan, berpromosi secara digital, atau memperluas akses pasar. Yang mereka butuhkan, kata peserta, bukan bantuan yang datang sesaat lalu hilang.