Jakarta – Langkah cepat penanganan kekeringan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, membawa dampak langsung bagi kelangsungan produktivitas pertanian. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan hampir 427 hektare lahan persawahan yang sempat terdampak kekeringan kini kembali mendapatkan pasokan air, sehingga ancaman gagal panen dapat diredam.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa percepatan penanganan dampak kekeringan terus dilakukan, terutama di areal persawahan Daerah Irigasi (DI) Bengawan Jero. Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PU telah melaksanakan normalisasi sungai dan pembuatan alur air sepanjang 1.670 meter sejak Minggu (23/8).
Untuk mendukung percepatan tersebut, sejumlah alat berat langsung dimobilisasi ke lokasi. Selain itu, pompa-pompa tambahan juga dioperasikan untuk meningkatkan debit dan memperlancar suplai air menuju jaringan irigasi yang melayani lahan para petani.
Menurut Menteri Dody, penanganan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan. Optimalisasi sumber daya air yang tersedia menjadi kunci agar layanan irigasi bagi masyarakat dapat terus berjalan tanpa hambatan.
“Air merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu, termasuk dengan mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Menteri Dody.
Secara teknis, upaya normalisasi difokuskan pada beberapa titik strategis, yaitu Sungai Deket atau anak Sungai Blawi, Sungai Corong, dan Sungai Malang. Pembukaan alur sungai ini bertujuan melancarkan aliran air dari Sungai Blawi, yang kemudian dipompa menuju jaringan irigasi untuk mengairi sawah-sawah di Desa Soko, Kecamatan Glagah, serta Desa Ketapangtelu, Kecamatan Karangbinangun.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 3 unit excavator amphibi dikerahkan untuk membuka aliran Sungai Deket, ditambah 1 unit excavator amphibi bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hingga saat ini, total pembuatan alur dan normalisasi yang telah diselesaikan mencapai sekitar 1.670 meter.
Untuk meningkatkan debit air, Kementerian PU juga memobilisasi 2 unit mobile pump ke Pintu Melik II, serta 3 unit pompa Alkon berukuran 6 inci dan 3 unit berukuran 3 inci. Pompa-pompa tersebut memanfaatkan sumber air dari Sungai Blawi dan Sungai Bengawan Solo agar suplai air ke sawah tetap stabil.
Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadji, menjelaskan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan upaya ini hingga seluruh lahan terdampak mendapat aliran air. Dengan demikian, produktivitas pertanian diharapkan tidak menurun dan target swasembada pangan nasional dapat didukung dari tingkat daerah.
"Dari total areal persawahan seluas 539,80 hektare yang terdampak kekeringan di DI Bengawan Jero, hingga saat ini sekitar 426,80 hektare telah berhasil terairi. Saat ini, masih terdapat sekitar 113 hektare sawah di bagian hilir yang belum mendapatkan suplai air. Senin (24/8) pelaksanaan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo ke Sungai Blawi akan dilanjutkan kembali," jelas Gatut.
Kementerian PU berkomitmen melanjutkan normalisasi Sungai Deket dan pemompaan air dari Sungai Bengawan Solo menuju Sungai Blawi. Selain itu, pembuatan alur sungai juga akan diperpanjang sekitar 4 km, sesuai permohonan Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A), guna memperlancar distribusi air ke wilayah persawahan. Upaya ini memastikan infrastruktur sumber daya air tetap berfungsi optimal di tengah kekeringan, sekaligus menjaga keberlanjutan layanan irigasi untuk mewujudkan ketahanan pangan.