BANDA ACEH — Percepatan pemulihan sektor pertanian pascabencana di Aceh menunjukkan hasil signifikan, terutama pada pembangunan jaringan irigasi tersier yang menyerap anggaran hingga 96 persen. Dari pagu Rp30 miliar, realisasi mencapai Rp28,7 miliar dengan 287 dari 300 unit irigasi yang direncanakan telah masuk tahap konstruksi.
Secara keseluruhan, realisasi keuangan kegiatan Kementerian Pertanian di Provinsi Aceh mencapai Rp272.376.464.000 atau 52,9 persen dari total pagu Rp515.220.500.000. Fadhullah menyampaikan, anggaran tersebut difokuskan untuk memulihkan lahan sawah dan infrastruktur pendukung pertanian di kabupaten/kota terdampak.
Realisasi Irigasi Perpompaan dan Perpipaan Capai 75 Persen
Selain irigasi tersier, pembangunan irigasi perpompaan di 16 kabupaten/kota juga berjalan masif. Sebanyak 585 dari 641 unit yang direncanakan telah memasuki tahap konstruksi. Sementara itu, untuk irigasi perpipaan, realisasi mencapai 88 persen dengan 136 dari 149 unit sedang dikerjakan.
Dari total anggaran pemulihan irigasi sebesar Rp147,48 miliar, realisasi keuangannya mencapai Rp110,69 miliar atau 75,1 persen. Angka ini menjadi salah satu penyerapan tertinggi dibandingkan komponen program pemulihan lainnya di Aceh.
Optimasi Lahan Rusak Ringan: 27.071 Hektare Jadi Sasaran
Untuk lahan sawah dengan kerusakan ringan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp155,66 miliar dengan realisasi Rp91 miliar atau 58,46 persen. Kegiatan ini mencakup perencanaan, konstruksi, dan pengolahan lahan yang tersebar di 16 kabupaten/kota dengan luas target mencapai 27.071 hektare.
Tahap survei, investigasi, desain, dan perencanaan telah diselesaikan untuk lahan seluas 23.818 hektare atau 88 persen dari target. Adapun konstruksi optimasi lahan telah merealisasikan Rp77,93 miliar atau 63 persen dan saat ini masih berjalan di lapangan. Pengolahan lahan yang dilakukan setelah konstruksi rampung baru merealisasikan Rp8,8 miliar atau 36 persen.
Rehabilitasi Sawah Rusak Sedang Terkendala Anggaran Tambahan
Berbeda dengan optimasi lahan, rehabilitasi untuk sawah rusak sedang mencatat realisasi lebih rendah, yakni Rp64,34 miliar dari pagu Rp200,42 miliar atau baru 32 persen. Fadhullah menjelaskan, rendahnya penyerapan ini disebabkan adanya tambahan anggaran untuk konstruksi dan pengolahan lahan seluas 9.388 hektare.
“Masih rendahnya realisasi karena adanya tambahan anggaran konstruksi dan olah lahan seluas 9.388 hektare,” imbuh Fadhullah dalam laporannya.
Meski begitu, tahap perencanaan rehabilitasi di lima kabupaten telah tuntas 100 persen untuk luas 4.393 hektare. Pada tahap konstruksi di 11 kabupaten, pekerjaan melibatkan kelompok tani seluas 818 hektare dan TNI seluas 3.575 hektare, dengan total konstruksi yang dilaporkan selesai mencapai 4.393 hektare.
Jalan Usaha Tani dan Target Pemulihan Menyeluruh
Pembangunan Jalan Usaha Tani di 13 kabupaten/kota turut menjadi perhatian. Dari pagu Rp11,66 miliar, realisasi telah mencapai Rp6,35 miliar atau 54 persen, dengan 79 dari 106 unit yang sedang dalam proses pekerjaan fisik.
Percepatan di sektor irigasi dan optimasi lahan ini diharapkan mampu mengembalikan produktivitas sawah di Aceh yang sempat terganggu akibat bencana. Dengan sisa waktu pelaksanaan yang ada, pemerintah menargetkan seluruh infrastruktur pertanian dapat beroperasi optimal untuk mendukung musim tanam berikutnya.